jump to navigation

4 Bank Disinyalir Jual Produk Spekulatif December 3, 2008

Posted by ropeh1 in Topik Hangat.
Tags:
trackback

Selasa, 02/12/2008 17:15 WIB
Wahyu Daniel – detikFinance
Transaksi Valas (Foto: dok detikcom)

Jakarta – Empat bank disinyalir menawarkan produk dual currency yang sifatnya spekulatif. Produk-produk ini diperkirakan memiliki potensi transaksi mencapai US$ 3 miliar yang berpengaruh terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Hal ini dikatakan oleh Anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo dalam rapat dengan Menteri Keuangan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (2/12/2008).

“Produk ini dinilai bisa menguras cadangan devisa dan membuat kemampuan konversi rupiah terhadap dolar tergerus. Jumlah ini cukup besar untuk mengganggu stabilitas rupiah,” tuturnya

Dradjad memaparkan ada empat bank yang terdiri dari 2 bank asing dan 2 bank swasta eks Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang sebagian sahamnya dimiliki asing menawarkan produk tersebut.

Produk yang mereka jual ke nasabah dengan jaminan deposito itu adalah callable forward dan knock out forward weekly accumulator. Produk ini dinilai bisa menciptakan artificial demand terhadap dolar yang menyebabkan dolar terus menguat dan rupiah terpuruk.

“Produk spekulatif tersebut akan semakin menguntungkan bank jika dolar terus menguat. Sementara nasabah tidak bisa untuk membatalkan kontrak. Sebaliknya jika dolar yang melemah sampai dibawah nilai kontrak dalam jangka waktu tertentu bank mempunyai hak untuk membatalkan kontrak,” kata Dradjad.

Dia juga mengatakan ada sekitar 3.000 nasabah pada keempat bank itu yang terjerat produk tersebut. “Ada juga BUMN yang diindikasikan ikut serta dalam produk itu, seperti Elnusa, PGN, Antam dan Krakatau Steel,” imbuhnya.

Dradjad mendesak Bank Indonesia selaku pengawas perbankan untuk memberikan sanksi terhadap bank yang menerbitkan produk itu. “Kenapa produk-produk seperti ini bisa diloloskan oleh BI, padahal risikonya tinggi,” ujarnya

Dia juga menilai ada kejanggalan pada pengawasan BI karena bank sentral sebagai pengawas perbankan tidak mengetahui adanya produk-produk spekulatif tersebut.

“BI terlambat melarang produk-produk dual currency yang sudah terlanjur beredar dan terasa dampaknya. Produk sudah terlanjur beredar, BI baru melarangnya,” tandasnya.

“Pengawasan perbankan selama ini menjadi titik lemah BI dan sampai saat ini belum berubah,” tambahnya.

Sebelumnya, Ia menyebutkan transaksi hanya sekitar US$ 400 juta hingga US$ 1 juta. Namun, Ia menyebutkan informasi yang baru didapatkannya nilai transaksinya mencapai US$ 3 miliar.

BI sebelumnya telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) No 10/42/DPD tentang pembelian valuta asing ke bank. SE ini merupakan pelaksanaan dari PBI No 10/28/PBI/2008 tentang pembelian valas terhadap rupiah kepada bank.

SE ini menegaskan PBI sebelumnya yang melarang pembelian valas untuk kegiatan spekulatif. Kegiatan spekulatif yang dimaksud antara lain dapat berupa structured product. Salah satunya adalah dual currency deposit, yang merupakan deposito jangka pendek yang didalamnya terdapat kemungkinan terjadi konversi antara valas dengan rupiah, yang bunganya dihubungkan dengan pergerakan kurs dari dua mata uang tersebut.

(dnl/qom)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: