jump to navigation

Mencintai dan Bangga dengan Bahasa dan Musik November 25, 2008

Posted by ropeh1 in Topik Hangat.
Tags:
trackback

Mencintai dan Bangga dengan Bahasa dan Musik
Minang Kabau
Oleh: Sparta

Suatu kesempatan dalam minggu ketiga Nopember 2008, saya mendapat tugas sebagai assessor dalam proses pemberian sertifikasi profesi bagi direktur Bank Perkreditan Rakyat. Tugas ini telah penulis lakoni sudah hampir tiga tahun sejak bergabung dengan salah satu lembaga pendidikan perbankan di Jakarta. Selesai tugas, saya pulang kerumah dengan mobil tumpangan staf dari bank  sentral. Saya baru kenal dengan staf ini karena sama-sama terlibat dalam proses ini dengan tugas yang berbeda. Sambil menikmati perjalanan pulang dari Jl. Thamrin ke Stasiun Kebayoran Lama, kami bercerita tentang banyak hal. Hal yang biasa dilakukan bila kita ikut mobil tumpangan, kita selalu berupaya untuk mengobrol lebih banyak dengan sipemilik kendaraan.
Sampailah pada suatu cerita, beliau menanyakan saya berasal dari mana. Saya sampaikan kepada beliau bahwa saya berasal dari Minang. “oh.. kalau begitu saya mau cerita tentang kesan saya selama di Padang” ujar beliau dengan suara agak setengah kaget. Rupanya ia mempunyai kesan  yang tidak pernah dilupakannya selama bertugas di Padang. Ia sudah dua kali bertugas di Padang. Tugas teakhir di Padang yang ia jalani terjadi dalam tahun 2004. Ia ingin berdiskusi dengan saya tentang kesannya itu.  “Ada dua hal yang saya tidak habis mengerti mengenai Kota Padang dan Sumbar pada umumnya” ia berujar dengan mimik wajah agak berkerut. “Pertama. Sebagai propinsi yang merupakan daerah tujuan wisata  ia tidak habis mengerti kenapa restoran-restoran terkenal di Padang tidak memutar lagu-lagu khas Minang Kabau. Hal ini ia bandingkan dengan restoran-restoran di daerah tujuan wisata lainnya seperti Bandung, Yogja dan daerah lainnya. Biasanya mereka selalu memutar lagu asli daerah setempat seperti lagu sunda dan lagu gending jawa atau keroncong di Yogja. Suasana restoran dengan mengumandangkan lagu-lagu  asli daerah setempat memberikan kesan unik tersendiri bagi turis lokal dan mancanegara yang berkunjung ke restoran tersebut. Ia sebenarnya menginginkan suasana  lain yang akan didapatinya di restoran Padang tersebut. Tetapi saat ia masuk dan selama menikmati hidangan masakan Padang tak sedikitpun terdengar lagu-lagu kas minang. Hal yang sama ia dapati juga saat makan di restoran besar lainnya di kota Padang dan Bukittinggi. Musik yang diputar di restoran-rstoran tersebut kebanyak lagu-lagu pop Indonesia dan barat serta dangdut.  Menurut beliau, alangkah nikmatnya makan masakan padang sambil mendengarkan lagu-lagu asli minangakabau, sehingga nuansa alam dan citra rasa minang sangat terasa…” saya cukup kaget mendengar kesannya ini. Setahu saya, selama sekolah di Padang tahun 70-an sampai saya lulus kuliah 1989 dan berangkat meninggalkan Padang tahun 1991 saya sering mendengar lagu-lagu asli minang  berkumandang di restoran-restoran menengah ke bawah. Tetapi untuk restoran menengah ke atas, memang sedikit agak jarang saya mendengar lagu-lagu asli minang. Waktu itu saya tidak terpikir bagaimana pentingnya lagu-lagu asli minang perlu diperdengarkan di restoran-restoran tersebut bagi wisatawan lokal dan mungkin juga bagi wisatawan asing. Tidak terpikir juga bahwa antara musik dan makanan ada hubungannya. Seperti masakan sunda akan lebih nikmat dinikmati apabila di iringi dengan musik khas sunda. Rasanya agak lain citra rasa masakan sunda bila saat menikmati masakan tersebut diiringi dengan lagu batak misalnya  Kesan sunda tidak muncul bila musik dan makanan tidak matching.
Saya tidak tahu persis apakah kondisi yang diceritakan teman saya di atas memang betul-betul terjadi atau masih terjadi saat ini. Hampir setiap tahun saya pulang dan beberapa kali saya makan di restoran di kota Padang dan di daerah lainnya seperti Pariaman, Padang Panjang, Bukit Tinggi dan Solok memang agak jarang saya mendengar lagu-lagu minang dikumdangkan dalam rstoran tersebut. Saya pikir karena hampir semua pengunjungnya orang minang, maka musik minang dianggap sudah biasa sehingga mereka kurang berminat lagi untuk mendengarkannya. Tapi munkin analisa saya ini tidak benar. Di tempat-tempat rekreasi, saya sering mendengar lagu-lagu minang dan group-group band dengan penyanyi asli Minang membawakan lagu-lagu minang. Tetapi maaf, yang menonton dan mendengar lagu minang tersebut kebanyakan dari golongan menengah ke bawah. Hal ini terlihat dari penampilan mereka yang dapat ditebak mereka bukan golongan menengah ke atas. Apakah kondisi ini dapat penulis simpulkan bahwa lagu-lagu minang hanya digemari oleh orang minang yang berasal dari kelompok menengah ke bawah saja?. Mudah-mudahan penulis salah. Kalau benar  hal itu terjadi maka dapat disimpulkan juga bahwa restoran-restoran besar yang ada di Padang dan Bukittinggi yang sebagian besar pengunjungnya berasal dari kelompok menengah ke atas adalah tidak begitu suka menghidupkan lagu-lagu khas minang. Mereka lebih suka mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia dan Barat sesuai selera pengunjungnya. Hal ini kalu kita bandingkan dengan Jakarta dan kotakota di pulau Jawa tentu berbeda sekali. Dikota ini, restoran-restoran besar selalu memberikan fasilitas hiburan musik khas asli daerah asal masakan tesrebut.
Kesan ia yang kedua, ini terkait dengan nilai kehidupan di Ranah Minang yang kita ketahui selama ini. Nilai kehidupan tersebut selalu bernuansa islami. Namun bayangan itu agak sedikit menjadi tanda tanya bagi teman saya ini pada saat ia dikejutkan dengan kondisi diluar dugaan dia. Saya juga merasa heran kok bisa terjadi seperti itu. Ceritanya begini, masih dalam tugas di Padang tahun 2004, pada saat selesai makan malam ia berencana mau pergi jalan-jalan kearah pantai Padang dari tempat penginapannya yang berada di seberang  SMP 2 Padang. (saya tidak tahu untuk apa ia jalan-jalan ke Pantai Padang, mungkin melihat suasana pantai Padang yang terkenal itu)  Begitu keluar gerbang hotel ia menyetop sebuah taxi untuk menuju kea rah pantai Padang. Tetapi alangkah kagetnya ketika ia membuka pintu belakang taksi ia melihat didalam taksi sudah ada seorang gadis belia dengan bahasa Indonesia logat minangya menyapa ia dan menawarkan diri kepada teman saya untuk ia temani jalan-jalan malam itu. Sambil menatap heran ia berpikir kok kondisi ini ada di Padang yang notabene kehidupan masyarakatnya sangat islami. Saya mendengar ceritanya juga heran dan mengatakan bahwa itu mungkin kasus. Dan saat sekarang hal itu mungkin tidak atau jarang terjadi di Padang. Tetapi terus terang saja, saya tidak dapat memeberikan komentar banyak karena selama saya hidup di Padang saya tidak mengetahui kondisi seperti itu.
Saya lihat kehidupan masyarakat di Padang terutama pergaulan kaum muda-mudinya jauh lebih sopan dibandingkan dengan Jakarta dan kota-kota besar lainnya di pulau Jawa ini. Namun kondisi pergaulan generasi mudanya saat sekarang saya memang tidak tahu persis karena saya telah menjalani kehidupan di Jakarta sejaka tahun 1991 sampai dengan sekarang. Namun saya berharap kondisi ini tidak umum terjad di Kota Padang dan Sumbar pada umumnya. Pertanyaannya, apakah yang berbuat itu orang asli minang atau bukan?.. Apakah kontrol masyarakat terhadap lingkungan sosialnya sudah mulai melemah? Apakah kepedulian keluarga minang sudah mulai melemah terhadap nilai-nilai islam? Namun sekali lagi penulis nyakin bahwa apa yang ditemukan oleh teman saya yang berasal dari penduduk asli Jakarta hanya sebuah kasus. Dan saat ini saya melihat nilai-nilai Islami dalam kehidupan masyarakat minang saat sekarang mulai digiatkan oleh pemerintahan daerah Tk.I Sumbar. Kegiatan ini mulai terlihat intensif selama pasca ancaman tsunami di Padang setelah tsunami di Aceh beberapa tahun lalu. Kegiatan tersebut antara lain: anjuran (wajib) untuk menggunakan Jilbab bagi anak perempuan di sekolah, adannya program pesantren bagi pelajar selama bulan Ramadhan dan lain sebagainya. Kondisi ini telah merubah suasana kehidupan lebih Islami. Mudah-mudahan kampuang kita terhindar dari  bencana yang maha dasyat seperti di Aceh karena kita berusaha keras untuk menjalani kehidupan ini sesuai syariat Islam. Sekali lagi Insya Allah hal itu tidak terjadi. Semoga Allah dapat melindungi nagari kita.
Dari kondisi di atas penulis juga melihat ada kecendrungannya kita masih belum percaya diri untuk menggunakan simbol kedaerahaan. Seperti kurang disukainya musik daerah dan bahasa minang asli untuk digunakan dalam percakapan sehari-hasi di rumah dan menggunakan ejaan minang saat mencantumkan nama nagari dan nama jalan. Dalam hal penggunaan bahasa minang asli di lingkungan keluarga terdapat dua kelompok. Untuk keluarga menengah ke atas dan terdidik, mereka lebih cendrung mendidik anak-anaka mereka untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Bagi mereka bercakap dalam bahasa Indonesia lebih memberikan kesan bahwa mereka adalah keluarga intelek dan berada dibandingkan apabila anak-anak mereka berbicara dalam bahasa minang.  Hal ini juga mengejala di percakapan informal dalam acara komunitas mereka.
Bagaimana dengan penggunaan bahasa minang di lingkungan keluarga menengah ke bawah? Dari pengamatan penulis, Lingkungan keluarga ini justru lebih banyak menggunakan bahasa minang dalam percakapan sehari-hari. Bandingkan dengan keluarga di daerah jawa (diluar daerah Jabodetabek). Pada umumnya mereka lebih banyak menggunakan bahasa asli daerah mereka. Mereka tidak merasa risih di anggap keluarga tidak terdidik dan berada apabila menggunakan bahasa Jawa. Mereka juga tidak merasa risih menggunakan bahasa Jawa di lingkungan kantor dan ditempat-tempat umum di daerah Jabodetabek.
Hal sama terjadi juga dalam mencantumkan nama daerah dan nama jalan yang berasal dari ejan asli minang. Misalnya Daerah “Sitinjau Lauik” di Tulis dengan “Sitinjau Laut”. Nama Daerah “Ampek Angkek” ditulis dengan “Empat Angkat”. Kenapa kita tidak menulis nama daerah dan nama jalan dalam ejaan bahasa minang saja seperti daerah “Limau Puruik” tetap ditulis dengan “Limau Puruik” sehingga apabila wisatawan datang ke sumbar ada nuansa lain dengan adanya nama-nama dearah dan nama jalan ditulis sesuai dengan ejaan minang. Pertanyaannya, apakah kita malu atau dianggap ndeso bila menulis nama-nama asli minang tersebut sesuai dengan ejaan minangnya? Apakah kita merasa ndeso bila dikeluarga kita masih menggnakan bahasa minang dalam percakapan sehari-hari? Apakah dengan bercakap dalam bahasa Indonesia dengan logat minang yang sangat kental kita merasa bukan mnejadi orang ndeso tetap menjadi keluarga berada dan intelek? Untuk menjawabnya cobalah kita bandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia bagaimana mereka memperlakukan budaya bahasa, musik asli daerah mereka tanpa mersa malu mereka di anggak ndeso. Khususnya keluarga-keluarga menengah ke atas.
Hanya sekian  yang dapat saya ungkapkan  dari hasil pengamatan saya, mudah-mudahan ini menjadi renungan kita untuk lebih bangga dengan jati diri ke-Minang-an kita. Sebagai daerah tujuan wisata, kita juga harus memberikan suasana kehidupan yang lebih unik sesuai adat minang yang bersandikan kitabullah (Al-Qur’an Nulkarim). Amien.. Salam dari penulis,  (Sparta)
                                                                                             Jakarta, 24 Nopember 2008,

Comments»

1. Ni Gus - November 26, 2008

From: gus dj

Jan jauah2 mancari contoh lai,
di Milist iko sajo, banyak nan sagan mamakai bahaso minang,
makonyo ambo agak2 sagan pulo bagabuang ,
kadianyo tu, babahaso awak se,
ndak usah ber Indonesia Raya,
sacaro awak2 urang awak, meskipun ado nan bukan urang awak,
kan labiah lamak ota kalo pakai bahaso awak,
baa agak ati tu ?

2. Eddy C - November 26, 2008

Sabana noh sajak pagi cako lai ba-agak nak ka mananggapi aa nan di buek Uni Gus tun … hehehehe…

Dipia-pikia baliak sabano noh nan di buek Uda Sparta tun memang tajadi di nagari awak dan iko indak lo bisa di ilak-an doh … nan namo no budaya tun iyo ba-evolusi kicek urang2 cadiak pandai…

Kok bahaso dilingkungan nan alah barubah iyo itu nan alah tajadi, ndak jauah2 lo doh kicek Uni Gus cubo lo lah mangecek jo bahaso sa-isuak bana jo anak2 awak …!!!
hahaha .. paliang tangango-ngango pakak sin anak awak ko kok di kecekan :
1. Oii Yuang, teek an lah sukuang nyak den kalalok (bahso kurai no = oii nak, ambilkan saya bantal buat tidur) ..
2. Indak jo ang jago den dora ang bikoh … (kalo kamu masih tiduran bakal saya saya siram) …
3. sambuah lai nan lain…
Hahahaha … baa agak ati..??? kok anak den iyo mangango sen noh …. hahaha … mungkin tapikia dinoh aa lah nan di baco apak den goh..???

taruih kok namo sebagian nagari nan alah barubah bak carito Uda Sparta tun … iko kan dek urang awak ko carito noh alah kalah mantagi dek kalah bagplak zaman PRRI (iko ndak ma ado2 doh, ambo dapek carito dari urang2 gaek dulu), sahinggo no batukalah namo2 nagari, jorong jo korong.. hahaha untuang jorong di nagari ambo lai indak barubah doh … tatap juo Tigobaleh

Dek lah kalah mantagi urang Minagkabau tun di Jawanisasi lah sado noh dek pemerintah pusat, indak ado sistim pemerintahan nagari laih, nan ado kecamatan, desa nan sabano noh caro jo sitim di tanah Jao (jawa).
Pendahulu awak sa-isuak iyo bapikia nan kasanang urang pusat se (pragmatis kicek Inyiak ambo hahaha) kok caro kampuang bialah tanduak malosoh katanah asal muncuang lai barisi hahaha… tapi dalam prespektif positif.. pendahulu awak manarimo caro “javanisasi” tun asal kepeang2 jo pitih bantuan desa lain banyak, “ba Indonesia”kan lah namo2 kampuang antah mangarati bahaso indonesia antah indak hahaha… atau dek kamus purwadarminta alun ado laih..??? hahaha.. asal kamalantong mambuek namo jadi noh … contoh no Ladang Laweh manjadi Ladang Lawas hahaha …. Empat Angkat, Pakan Kamis….. banyak nan aneh2 laih …
Positif noh, sacaro umum pembangunan infrastruktur tanah minangkabau khusus no prop Sumatera barat lai rancak, sikola sambuah kalo di bandiang jo di tanah Jao sendiri … malahan akhir tahun 80an ambo mangalasau ka Jogja pulang ka kampuang bako indak kalah nagari Minangkabau doh jo kondisi nan samo, sahinggo no dek paik bana hiduik urang di Jawa tun namuah urang2 ko ikuik program transmigrasi, tahun 96-2007 ambo acok mangalasau di pedalaman Jawa, hahaha cubo bayangkan masih ado daerah2 nan alun balistrik … samantaro nagari awak di Lasi dikaki gunung Marapi taun 80an alah ado listrik………… Itu positif no.

Dari evolusi itu kini hasil no iyo bantuak nan tajadi kini … hahahaha… kok untuak musik minang di rumah makan, jenis musik apo nan ka di danga..?? salaung …??? ngantuak urang bikoh … hahaha ..rabab pasisia…? samo sen noh .. hahaha .. dek lah banyak di danga, banyak nan dapek, banyak lo nan lupo akhia no musik apo nan di setel di rumah makan jo hotel itu nan katuju diurang zaman kini di kampuang … mungkin indak katuju dek pengunjung hahaha…

Itulah Minangkabau kini, antah lai juo Minang no antah indak hahahaha… nan pasti kabau no tatap ado hahaha… kok indak iyo lah ndak lamak randang kabau laih

Untuak bahaso kok ka babahaso aa sin buliah, hahaha… baliak wak ka tujuan urang babahaso ko untuak berkomunikasi ,asala lai bisa dimangarati alah mah … baitu juo bamusik alah katuju di urang,sanang urang mandanga alah mah …hahaha…

jadi manuruik ambo pribadi cintailah dan banggalah jo bahaso nan bisa dimangarati urang … jo musik nan disanangi urang … baa agak ati..?? Kok ka bahaso apo tasarah lah nan penting masuak kriteria tun .. hahaha…
syukur2 bahaso jo budaya minagkabau bisa ditarimo umaik manusia dan bisa di jual sbg budaya wisata, sakali laih iko hanyo pandapek ambo sajo …

wassalam’alaikum
keep peace
Eddy
87

3. AA Harris - November 26, 2008

ambo satuju jo pandapek Ni Gus jo Eddy Qoeray…. kiniko bahaso urang awak
hanyo dikonsumsi untuk apak2 jo amak2. Kalo lah marantau hilang sadonyo,
apak jo amak ngecek bahaso minang anaknyo mancongok sajo.. ” a kecek
dunia…?”
sabanarnyo untuak melestarikan bahaso minang ko mudah sajo. Ado itikad dari
Pemda untuk melestarikannyo. Coba kito caliak di lingkungan jawa, anak SD
alah wajib barajar bahaso daerah ( Sunda jo Jawa ). Indak ado SD di minang
barajar bahaso minang…. ( standar bahaso minang nan rancak / baku )..???

wassalam
Haris Japang

4. Akmal.SE.,AK - November 26, 2008

Assalamualikum warahmatullahiwabar akatuh

Awak sapandapek jo dunsanak, subananyo bahaso daerah minangko di lestarikan, jaan alah pai marantau alah lupo jo bahaso daerah, nan parahnyo awak urang minang tapi kalau basobok pakai indonesia raya, cubo diliek samo daerah lain seperti medan kalau sarobok inyo bahaso batak, mungkin untuk pemda iko masuaan juo di daerah aceh di SD alah baraja bahaso Aceh malahan dari Play group alah baraja jadi apo salahnyao bahaso minang dimasukan di kurikulum sakolah, tapi manuruik asumsi awak mungkin maleh manunjuaan identitas sebagai urang minang malu , mungkin ado parangai urang minang ado yang ndak satuju oleh yang lain, jadi tunjuanlah urang minang ko Cadiak Pandai seperti ulama ulama yang dulu seperti haji Agus Salinm , Buya Hamka, maaf yo iko masukan ajo dari awak. hee untuak palamak ota samo minum teh talua

wassalam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: