jump to navigation

Pahalawan November 24, 2008

Posted by ropeh1 in Berita.
Tags:
trackback

Usai Barack Husein Obama menyelesaikan pidato kemenangannya yang indah, humanis, dan sarat visi, segera orang-orang dari pelbagai warna kulit, usia, golongan, dan jabatan, juga –walau begitu anehnya– dari segala penjuru dunia, mengucurkan air mata haru. Sebagian dari mereka bahkan mendesiskan kata penuh harap dan makna, ”He’s my hero.

Begitu pun ketika Christopher Reeve turun di limusinnya, seseorang yang selalu terharu spada aat Superman menyelamatkan nyawa yang terancam, menghambur kepadanya dan berseru, ”You’re my hero.Hero di sini tentu bukan sebuah supermarket, melainkan sebuah transendensi personal ke sebuah tingkatan di mana person itu memiliki kemampuan supra-human dalam menyelamat human(itas) dari ancaman kehancuran. Manusia seperti itu bagaikan kantong ajaib yang, bila dibuka, isinya hanya pahala. Buah perbuatan yang semata bermakna kebajikan bagi banyak orang.

Dan manusia berpahala, pahalawan, inilah yang akan mengisi indeks dan tinta tebal buku-buku sejarah. Buku-buku sejarah itu, di mana-mana, juga di negeri ini, menderetkan puluhan hingga ratusan pah(a)lawan, semata dari kalangan mereka yang berjuang di lapangan politik dan militer. Mereka yang diakui melakukan perjuangan fisik, hingga dipenjara dan disiksa, demi membela keberadaan dan kelahiran sebuah negara/bangsa.

Tiga nama yang beberapa hari lalu dianugerahi gelar ”pahlawan nasional” oleh presiden negeri ini (Bung Tomo, M. Natsir, dan Abdul Halim) tentu saja memiliki riwayat patriotik yang semacam. Satu tradisi modern yang kita warisi, memproduksi perbendaharaan nama jalan nasional, dari kurun sejarah pendek, 30-40 tahunan di awal abad ini, di masa pergerakan dan perjuangan revolusi kemerdekaan.

Pahlawan tidak cukup lagi dimaknai dengan kapasitas dan perjuangannya dalam merebut atau menciptakan kemerdekaan (sebuah bangsa), melainkan juga mereka yang mempertahankannya. Juga mereka yang mengisinya. Juga mereka yang mendedikasikan diri (dan mengorbankan kepentingan pribadinya) bagi kepentingan yang jauh lebih luas. Bagi mereka, dalam moral yang lebih luas, senantiasa berbuat demi keselamatan manusia, keselamatan spesies terbaik di semesta ini.

Maka, bukan saja Neil Arsmtrong, Ibu Theresa, Aung San Su Kyi, melainkan juga Deng Xiao Ping, Mikhail Gorbachev, bahkan Hun Sen, Hugo Chavez, hingga Bono, Bob Geldof, atau petani yang melubangi gunung demi pengairan sawah di kampungnya, atau jelata yang membakaukan ratusan hektare pantai yang terancam abrasi, adalah pahlawan. Mereka yang tiada henti melawan keterbatasan manusia, ancaman alam, dan kedegilan peradaban, yang semuanya mengancam martabat serta keberlangsungan makhluk paling kompleks ini.

Pahlawan tak dapat lagi disempitkan oleh ukuran-ukuran, apalagi kepentingan politik dan militer belaka. Siapa pun yang melakukan tindakan dengan kapasitas, kapabiltas, dan jangkauan makna yang jauh lebih luas dari ruang dirinya sendiri, dalam segmen dan dimensi hidup apa pun, juga seorang pahlawan. Baik yang berbuat di lapangan ekonomi, akademik, agama, kebudayaan, maupun kesenian. Tanpa harus berembel-embel melawan musuh negara, dalam arti politik atau militer.

Dan berapa banyak nama yang harus berderet dalam pengertian itu, yang secara diskriminatif kita nafikan. Figur seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, Sudjojono, Affandi, hingga Usmar Ismail atau Soedjatmoko, Rooseno, bahkan Tan Malaka atau Semaun, sesungguhnya cukup pantas mendapat martabat dan kehormatan itu.

Bila Natsir dengan kontroversi ”pengingkarannya” pada republik kita akui, dua tokoh terakhir –betapapun kontroversial pemikiran serta cara berjuangnya– juga memiliki jiwa dan tekad yang sungguh bulat dalam penciptaan kemerdekaan, penciptaan negara dan bangsa ini. Itu tak bisa ditolak. Sementara pikiran dan cara begitu relatif, sebagaimana relatifnya –katakanlah Soeharto– dalam meraih kekuasaan. Sejarah perlahan akan mendudukkan soal pada kursi sebenarnya.

Tapi negeri yang sudah menikmati kebebasan pikiran dan tindakan ini, yang sudah mencerna semua puncak peradaban mutakhir ini, masih saja tenggelam dalam ukuran-ukuran yang naif, bahkan konyol. Pahlawan diakui dan digelarkan, setidaknya secara informal, justru kepada mahasiswa yang tanpa sengaja melewati kumpulan demonstran dan tewas tertembak peluru nyasar. Atau calon mahasiswa yang naif tapi tewas karena kekejian seniornya. Atau mungkin koruptor besar, bahkan pengkhianat negara, yang karena berdana besar, kerap tampil seperti selebriti dalam kampanye televisi.

Bila sudah demikian rendah apresiasi dan cara kita menakar pahlawan, dan akhirnya mereka yang pantas memimpin negeri ini, bagaimana kemudian kita dapat menakar diri sendiri, menakar negeri sendiri, masa depan kita sendiri. Banyak sungguh pekerjaan mental yang harus dijalani. Tanggung jawab –yang ironisnya– tak bisa lagi kita tuntut kepada elite, pemimpin: mereka yang semestinya paling bertanggung jawab pada ini negeri. Cuma kita, kita yang jelata, mesti menjawab ini semua.

Radhar Panca Dahana
Pekerja seni dan pemerhati budaya
[Perspektif, Gatra Nomor 1 Beredar Kamis, 13 November 2008]

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: