jump to navigation

Krisis… November 1, 2008

Posted by ropeh1 in Topik Hangat.
Tags:
trackback

Oleh : Rope

Krisis, sebuah kata yang sangat menakutkan bagi para ahli ekonomi saat ini, semua mencari sabab musabab, terjadinya krisis, semua mencari formula mujarab untuk menghidari ataupun keluar dari krisis.

Krisis ekonomi saat ini dimulai dengan rontoknya ekonomi Negara polisi dunia (Negara hakim dunia/ Negara yang boleh bilang Negara lain salah), suatu hal yang tidak pernah dibayangkan secara nyata sebelumnya. Orang awam tidak pernah melihat tanda-tanda akan terjadinya krisis tersebut yang akan dimulai di Negara Tsb, tetapi para ahli telah melihat tanda atau ciri-ciri kearah situ, tetapi mereka seolah tidak yakin atau mungkin mereka mencoba untuk mencari toeri baru bahwa tanda-tanda tersebut merupakan fenomena yang salah dari ilmu yang pernah ada, atau juga mungkin mereka berlaku tenang agar orang awam tidak panic yang berlebihan sehingga menyebakan dampak yang lebih parah lagi (kalau ini hanya fikiran pisitif saja).

Seorang sahabat pernah menulis bahwa krisis ekonomi kalau dihitung sejak abad 17 sampai saat ini telah terjadi sebanyak 16 kali, jumlah yang cukup besar ( kira-kira sama jumlahnya jika Tim Liga Indonesia bawa pemain jika main tandang), dan pada dasarnya krisis itu selalu dimulai dengan tindakan ekonomi yang berlebihan (pemberian fasilitas), banyak negara pada awalnya dengan dalih memelihara pengusaha local, atau menjaga pertumbuhan ekonomi, memberi beberapa faslitas khusus dan seringkali berlebihan pada pelaku usaha. Mereka diberi kemudahan-kemudahan atau fasilitas agar produk yang mereka hasilkan dapat diserap masyarakat, sehingga posisi demand mengejar posisi supply. Di Indonesia, pada saat demand sudah mengejar supply,posisi keuangan pengusaha tersebut pasti sangat-sangat sehat disamping juga akan muncul kepercayaan yang sangat besar dari institusi lainnya sehingga timbul keinginan sang pengusaha untuk ekspansi besar-besaran, merambah semua jenis usaha atau yang lebih trendnya membangun usaha dari hulu sampai hilir. Secara hukum alam, sudah pasti apa yang ada tidak akan mencukupi untuk memenuhi segala keinginan, makanya akan timbul kerjasama antara satu pengusaha dengan pengusaha lainnya (kolaborasi), dimulai dengan penggabungan modal dan sejenisnya, sesuai dengan perjalanan, penggabungan ini sangat beresiko, menurut pertimbangan ekonomis belum terlalu aman secara otoritas, karena pasti membutuhkan kompensasi yang sebanding diantara dua belah pihak, dan hal itu tidak profitable, katanya.

Maka dicarilah jalan lain, yaitu mengumpulkan dana murah, dari mana ? ya dari masyarakatlah pasti!!!, dengan berbagai metode , mulai dari jual saham sampai mendirikan lembaga keuangan sendiri. Maka dimulailah era baru ekonomi, produk yang dijual pada masyarakat sebenarnya di buat dengan menggunakan modal masyarakat itu sendiri, pengusaha-pengusaha jor-joran membangun pabrik, membangun infrastruktur ekonomi lainnya. Mereka berhitung bahwa apa yang dibuat akan tetap dibutuhkan dengan asumsi yang pasti (asumsinya pasti ? hebatkan). Disisi lain, pengusaha tersebut masih dapat keringanan –keringanan dari pemerintah , bahasa sekarangnya subsidi silang, yang udah pasti didanai dari uang masyarakat lagi…enakkan.

Dengan telah dibangunnya pabrik-pabrik dan infrastruktur lainnya serta telah punya lembaga keuangan sendiri, fikiran para pengusaha bertambah maju dan masih merasa kurang dengan kondisi yang telah ada (belum puas kali), sekarang, terlintas lagi membangun mega proyek yang lain, dananya dari mana?, ya hutanglah pasti…..

Mulainya episode hutang, pengusaha dengan jaminan nama aja (ditambah sedikit asset yang sudah di nilai tinggi), bisa mengajukan pinjaman pada lembaga keuangan mana saja di saantero nusantara, kalau pakai lembaga keuangan asing ya pakai jaminan asset yang sedikit jelas .Proyek-proyek sudah dipaparkan dengan FS yang menyakinkan, di depan para pengambil keputusan baik itu lembaga keuangan maupun pemerintah dan pasti dengan sedikit iming-iming “terimakasih” telah membantu.

“Terimakasih” sudah disampaikan berarti proyek sudah jalan, dana yang diterima cukuplah untuk membangun 2 sampai 4 proyek sejenis, berarti pengusaha udah dapat untung (laba/profit) didepan dong…..(secara matematis iye kali), yang kurang hanya menunggu peresmian doang (udah pasti dilakukan pejabat), sekalian promosi dan penekanan bahwa produk yang dihasilkan adalah yang terbaik dan terjamin kualitasnya, serta masyarakat diserukan untuk membeli (karena disiarkan media elektronik secara live).

Pabrik berproduksi dan mulai jualan, pangsa pasar sudah jelas, sudah punya kavling sendiri, yang nggak boleh diganggu gugat. Akhir tahun di audit, biasa rugi, kan baru operasional, tahun berikut rugi lagi, kan masih dalam tahap alih teknologi, tahun ke tiga rugi lagi, biasa ekonomi nasional belum stabil, tahun ke empat rugi lagi, kayaknya perlu restrukturisasi hutang nih, atau ajuin pinjaman modal kerja……….,tapi ntar dulu, restrukturisasi dilakukan setelah tahap utama siklus usaha dilalui, sang pengusaha mau daftar jadi caleg dulu…..atau jadi menteri juga boleh……..

Berapa banyak kejadian begini di Negeri kita, “inilah awal kejadian krisis ekonomi”

Comments»

1. BeritaBaik - November 1, 2008

Seharusnya kita tidak perlu takut dengan krisis apabila memang kita sudah tahu cara atau jalan yang harus ditempuh untuk menghadapi krisis tersebut.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: