jump to navigation

WISATA HATI – Cahaya Amal October 30, 2008

Posted by ropeh1 in Pencerahan.
Tags:
trackback

Sebuah perbuatan akan bercahaya bila berbahan bakar keikhlasan.

SEORANG kawan senang betul salat sunnah kalau ia berada di kota lain. Memang, Rasulullah mengatakan bahwa jika kita bepergian jauh, begitu sampai di tempat tujuan segera menegakkan salat sunnah dua rakaat. Itu merupakan tanda syukur kita sudah sampai dengan selamat.

Suatu hari dia pergi ke satu tempat. Sebagaimana biasa, ia mencari masjid atau musala. Layaknya orang yang mau salat, kawan ini mencari toilet dan tempat wudu. Tapi, langkah dia tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang sepertinya dikenali. Sebut saja bernama Fulan, kawan SMP yang sangat pintar.

Untuk sementara dia tertegun. “Tidak salahkah penglihatanku? ” tanyanya pada diri sendiri. Fulan yang tengah membersihkan toilet dan tempat wudu itu diamati beberapa saat. Pria itu berbaju khas merbot masjid; kaosan, celana buntung, dengan peci haji yang didongakkan ke belakang kepala. Fulan tengah mengepel.

“Assalamualaikum. ..,” sapa dia dengan hati-hati, khawatir salah mengenali seseorang. Ternyata penglihatannya tidak salah. Yang di depan mata benar-benar Fulan, kawan dia. Fulan juga mengenali diri dia, dan menanyakan urusan datang ke kota ini.

Masih di koridor tempat wudu masjid tersebut, kawan ini melanjutkan pertanyaan, “Kenapa Fulan hanya jadi merbot masjid? Dan, kenapa mau?” Yang ditanya tersenyum. “Memangnya ada yang salah dengan kerjaan ini? Kan, bagus. Dengan saya menjadi merbot, masjid ini jadi bersih. Kalau bersih, kan yang salat jadi senang. Betah. Akhirnya saya pun dapat pahalanya,” ujar Fulan.

“Tapi, penghasilannya kan tidak sepadan. Lagian Fulan kan dulu pintar. Cerdas. Sangat cerdas malah. Selalu ranking. Kok, kayaknya gimana, gitu ….?”

Fulan kembali tersenyum, dengan tangan kiri tetap mengelap sisi pinggir tempat wudu. “Gimana kalau Fulan ikutan sama saya?”
“Maksudnya?”
“Ya, kerja sama saya. Fulan bisa saya gaji lebih besar dari penghasilan sebagai merbot ini. Ngomong-ngomong jadi merbot digaji nggak?”
“Nggak.”
“Wuah, apalagi nggak. Sudah kerja sama saya saja. Pendidikan terakhir?”
“Sarjana elektro,” katanya.
“Waduh, tambah nggak pantaslah. Masak sarjana elektro jadi merbot. Yang beginian mah, maaf, nggak perlu tamatan elektro. Cukup tamat SD saja. Maaf ya, Mas. Cuma rasanya, gimana gitu saya melihatnya.. ..” “Ya, sudah,” jawab Fulan, “Salat saja dulu. Nanti kita ngobrol lagi. sambil ngopi, biar saya buatkan sekalian.”

Kawan ini pun mengambil air wudu, sambil tetap mikirin Fulan. Kala dia mau mengambil posisi salat, seorang anak muda yang tampaknya juga merbot masjid bertanya : “Pak Haji, Bapak kenal Pak Haji Fulan, ya?”
“Iya. Dia kawan saya waktu di SMP, dulu….”
“Pak Haji, Pak Haji Fulan itu yang bangun ini masjid. Dia orang kaya di sini….” kata anak muda tersebut dengan datar. “Orangnya baik, Pak.Rendah hati. Sederhana. Padahal amalnya buanyak….”

Tidak berhenti di sini, si anak muda itu pun bercerita bahwa Haji Fulan adalah pengusaha alat-alat listrik dan toko bangunan yang maju. Dia pengusaha daerah yang sangat cinta masjid. Dia mengaku dapat semua keberkahan ini karena sangat menjaga salat berjamaah dan mencintai masjid.

Makanya, kala sukses, dia membangun masjid kecil ini. Begitulah cita-cita dia. Bahkan dia berangan-angan untuk berkhidmat pada hamba-hamba Allah yang salat di masjidnya. Pelanggan-pelanggan nya pun tahu kalau mau mencari Haji Fulan, temui saja di masjid dia.

Masya Allah.
Hati kawan ini tiba-tiba saja merasa malu. Ia telah merendahkan “jabatan” merbot masjid. Apalagi, ternyata Fulan inilah yang berada di balik pembangunan masjid tersebut. Dia berpikir, andai “merbot” tersebut adalah diri dia, dan orang menyangkanya sebagai pembersih masjid, pasti bakal diluruskan, “Maaf, saya lho yang membangun masjid ini. Saya mah kebetulan saja senang membersihkan masjid.”

Masya Allah, Fulan adalah sosok lain. Dia justru menyembunyikan amalnya. Ikhlas nian. Kawan ini beristigfar. Tanpa perlu gembar-gembor, Allah sudah membanggakan hamba-hamba- Nya yang ikhlas. Allah yang bangga terhadapnya, dan membuat anak muda tadi berbicara tentang siapa sebenarnya Fulan. Keikhlasannya membuat Fulan bercahaya. Bahkan makin bercahaya.

“… Dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya.. .”
(Q.S. al-A’raf: 29).

Kiriman AA Harris

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: