jump to navigation

Kapolres Solok…. October 30, 2008

Posted by ropeh1 in Berita.
Tags:
trackback

sebagaia info bagi alummni FE-UA, Kapolres solok adalah alumni angkatan 1984 Rosmita Rustam. berikut berita di salah satu situs.sebagai berikut

AKBP Rosmita SE. MM, Kapolres Solok: Obsesi Polisi Perempuan

Berhasil menyelenggarakan training ESQ Swagriya Polda Sumbar. Merasakan perubahan pada jajarannya. Atmosfer di lingkungannya kini memancarkan banyak energi positif.

Beberapa polisi muda berjejer berdiri tegak memberi hormat kepada seorang perempuan berbaju kurung hitam dan berkerudung merah. Mereka terlibat pembicaraan di salah satu ruangan Universitas Putra Indonesia, Padang. Dari sikap para polisi itu, dipastikan perempuan berpakaian sipil tersebut adalah pemimpinnya. Ia adalah Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Rosmita SE. MM, Kepala Polisi Resor (Kapolres) Solok, Sumatera Barat.

Rosmita mengaku kenal ESQ dari cerita beberapa teman di Jakarta.  Sebelumnya, ia pernah juga ikut training leadership, spiritual bahkan tasawuf. Namun, yang mampu menggugah dirinya adalah ESQ. Ia selalu mencari hal baru yang mungkin berguna bagi dirinya dan masyarakat. Akhirnya, ia menemukan jawaban yang mantap dalam pelatihan ESQ. Sejak itu, ia yakin betul akan keberadaan Allah.

Begitu juga kebulatan hatinya saat akan ikut ujian masuk pendidikan kepolisian. Awalnya, banyak orang di sekitarnya meragukan kemauan dan kemampuannya. Apakah seorang perempuan seperti dia akan mampu menempatkan diri dalam lingkungan polisi? Berkat keyakinan, tekad dan jalan yang diberikan Allah, akhirnya ia berhasil memasuki gerbang itu.

Bahkan, dalam karirnya, Mita sempat ikut membantu pimpinannya merumuskan perubahan budaya organisasi kepolisian. Saat itu, mengubah budaya organisisi bukanlah pekerjaan mudah. Beberapa saat setelah jadi alumni ESQ, ia juga sempat mengemukakan pendapat kepada pimpinannya. Ia yakin, ESQ dapat menjadi sarana bagi perubahan budaya itu.

Karirnya bergerak terus. Rosmita dipercaya mengemban tugas sebagai Kapolres Solok. Di tempat itu, ia mencoba mewujudkan impian. Bersama beberapa rekannya di Polda Sumbar, ia berhasil menyelenggarakan training ESQ Swagriya Polda Sumbar I pada 2007. Beberapa perwira jajarannya diajak mengikuti training itu. “Sejumlah Kepala Polisi Sektor (Kapolsek) dan beberapa petinggi polisi di Solok saya bawa ikut pelatihan,” ujarnya.

Kemudian, para anggotanya yang lain diikutkan pula pada training ESQ Swagriya Polda Sumbar Angkatan II. Rusmita merasakan perubahan pada jajarannya. Atmosfer di lingkungan Polres Solok kini memancarkan banyak energi positif. “Ketika awal saya datang ke Solok, saat saya perintahkan A, para anggota bisa menerjemahkan jadi triple Z,” tuturnya. Sehingga, Rosmita berinisiatif untuk menyentuh kalbu mereka terlebih dahulu, baru kemudian mindset-nya.

Ia bersyukur, kini perubahan menuju kebaikan semakin kental terasa di sana. “Dahulu, ada beberapa anggota yang tak peduli dengan hal yang berbau spiritual. Kini, mereka malah jadi pencetus aktivitas religi.
Beberapa di antaranya bahkan ikut bersyiar,” kata Rusmita. Dalam kegiatan kerja sehari-hari, Mita mengakui bahwa saat mengatur aparat, kini tidak serepot ketika pertama kali menjabat.

Ia kini berkomitmen untuk mengubah kinerja korpsnya terlebih dahulu. Baru kemudian memberikan teladan pada masyarakat di wilayah hukumnya. Karena, jika polisi berubah, dampak positifnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia punya obsesi mewujudkan polisi-polisi yang disegani dan dicintai masyarakat.

Usahanya ke arah itu telah menampakkan hasil. Seperti upayanya menggandeng Pemkab Solok dan Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ menyelenggarakan pelatihan ESQ. Training ESQ Swagriya khusus bagi masyarakat pasca pertikaian dua nagari di wilayahnya, berhasil terselenggara dengan baik.

Beberapa kendala cukup berat dialami Rusmita merintis training itu.Ternyata, maksud baik tidak selalu disambut mulus warga yang sedang berseteru. “Walau anggota telah berbenah dan berubah, serta berusaha
mendekatkan diri kepada masyarakat, ternyata masih direspon penuh rasa curiga. Mereka masih melihat polisi dengan sudut pandang berbeda. Bahkan, cenderung negatif. Begitu jeleknya polisi di mata mereka saat itu,” ujar Mita perihatin.

Semua itu diterima Mita dan jajarannya dengan sabar. Akhirnya, mereka berhasil juga dipertemukan. Para tokoh masyarakat, wali nagari, ninik mamak dan warga yang beberapa jam sebelumnya masih bermusuhan,
akhirnya berdamai dan saling berpelukan di training ESQ. Kemudian, berita baik itu tersebar di kedua nagari, dan berlanjut dengan penyelenggaraan training ESQ Angkatan II pada 14 – 16 Juni.

Tentang pertikaian antarnagari itu, Mita berpendapat, itu karena telah terjadi pergeseran di masyarakat, yang berakibat konflik horisontal. Pergeseran antara adat dan agama. Oleh sebab itu, kembali ia coba sentuh hati mereka terlebih dahulu dengan nilai spiritual. “Alhamdulillah, ternyata apa yang kita inginkan bersama, diwujudkan oleh Allah.”

“Tanpa tendensi apa pun terhadap ESQ, dengan memasyarakatkan nilai 165 secara lebih luas, saya yakin perubahan ke arah positif di segala bidang akan lebih cepat terwujud,” katanya menutup pembicaraan. Mazri Tanjung

Kiriman Sparta (Akt 84)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: