jump to navigation

Analisis: Standar ganda Bule VS jurus silat Melayu October 30, 2008

Posted by ropeh1 in Topik Hangat.
Tags:
trackback

28 October, 2008 Oleh: SurauNet

Krisis global telah memasuki tahap resesi ekonomi, setidaknya bagi AS dan beberapa negara di Eropa. Cara Barat menyikapi krisis finansial dan tren resesi dalam banyak kasus bertentangan dengan ideologi non-intervensionis pasar bebas yang selama ini mereka anut.

(SurauNet): Bahkan, kebijakan-kebijakan ekonomi yang mereka pakai belakangan ini kontras sekali dengan resep-resep yang mereka berikan untuk negara-negara Asia semasa krismon dekade lalu.

Kini, Barat tengah berjuang menyelematkan diri masing-masing dari bencana kehancuran finansal baik sistem maupun lembaga. Islandia, misalnya, krisis sudah sedemikian parah sehingga tidak ada satu resep apapun yang menghindari mereka dari kehancuran sistem finansial.

Sementara, beberapa negara lain di Eropa Timur seperti Ukraina dan Hungaria, mulai melirik IMF untuk mendapatkan dana talangan.

Negara berkembang juga kecipratan masalah.

Pakistan, misalnya, dengan cadagang devisa yang sudah di level terendah, kini berjuang mendapatkan pinjaman darurat beberapa miliar dolar.

Negara Asia lain seperti Korsel sepetinya menjadi calon kuat untuk diterjang krisis.

Pemerintah Barat seakan berlomba meluncurkan jaminan deposito dan simpanan umum di bank-bank komersial.

Dimulai di Irlandia, kini program penjaminan simpanan juga dikeluarkan Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya.

Pekan lalu, Malaysia dan Singapura juga melakukan hal yang sama, dimotori oleh Hong Kong di seantero Asia.

Begitu ada satu negara yang memberi jaminan simpanan dan deposito, mau tak mau negara lain akan menempuh hal serupa untuk mencegah pelarian modal.

Bagaimanapun, program penjaminan adalah cerminan rendahnya keyakinan pemerintah terhadap sistem perbankan.

Pasar modal juga disapu krisis. Harga-harga saham di bursa-bursa terkemuka dunia berguguran.

Bahkan orang terkaya AS dan investor terkemuka seperti Warren Buffet pun tak berani menaksir volatilitas saham di hari-hari mendatang.

Beberapa hari terakhir ditandai dengan jurus-jurus Dewa Mabuk.

AS, misalnya, menyuntikkan modal ke sembilan bank terbesar di negara itu, dimulai dengan skeman rekapitalisasi terkait ekuitas senilai 250 miliar dolar!

Swiss yang selama ini dikenal sebagai surga penyimpanan harta, terpaksa meluncurkan program penyelamatan $60 miliar untuk menalangi bank terbesarnya UBS.

Sebesar $55 miliar dalam bentuk transfer aset dan $5 miliar dalam bentuk injeksi tunai!.

Ironisnya, segala jurus-jurus finansial itu belum menyentuk sisi riil perekonomian itu sendiri.

Di AS, misalnya, kekhawatiran terbesar justru terletak pada maraknya PHK dan pengangguran serta anjloknya sektor industri dan produksi.

Pekan lalu, indeks sentiment konsumen AS jatuh dari 70 (September) menjadi 58 bulan ini.

Hari-hari belakangan ini juga diwarnai standar-standar ganda lain yang dipraktekkan Barat dan IMF.

Jurus yang mereka keluarkan jelas-jelas berlawanan dengan apa yang mereka resepkan saat Asia mulai diterpa Krismon 1997.

Korsel, Thailand dan Indonesia dianjurkan menaikkan tingkat suku bunga dengan drastis.

Cara ini biasanya dipakai untuk menarik dana asing dan meredam inflasi, meskipun inflasi di Asia terbilang rendah.

Kalau diikuti (kenaikan suku bunga itu), para konsumen dan sektor bisnis bisa kesulitan membayar utang. Ini berisiko pada NPL (kredit macet) perbankan.

Ujung-ujungnya, resesi lagi. Dan investor justru semakin tidak yakin.

Sebaliknya, pemangkasan suku bunga di Barat dipandang sebagai jurus ampuh (selain stimulus fiskal) untuk meredam tren resesi.

Setiap kali The Fed dan bank-bank sentral Eropa menurunkan suku bunga meski dengan persentase yang kecil, pasar saham langsung bereaksi positif.

IMF juga menuliskan resep untuk Asia jangan sesekali memberi dana talangan buat perusahaan dan bank-bank setempat karena bisa terjadi pengemplangan uang rakyat.

Di Indonesia, banyak bank-bank yang kolaps karena Bank Sentral diinstruksikan untuk tidak membantu mereka jika bermasalah.

Sebaliknya, para pemimpin Eropa bersepakat untuk menyiapkan dana talangan hingga $3.000 miliar sebagai injeksi tunai, transfer aset dan utang dan penjaminan berbagai model simpanan.

Yang penting bagi Barat adalah mencegah jangan sampai sistem finansial mereka ambruk dan perekonomian kolaps, kapan perlu suntikan dana dari pemerintah tidak terbatas.

Asia tentu saja juga ingin menjaga ekonomi mereka agar tidak kolaps.

Tapi mereka tidak disarankan untuk mengeluarkan sesenpun untuk menyelamatkan sektor swasta.

Mereka malah ditawarkan beberapa kebijakan yang hanya merubah krisis finansial menjadi resesi ekonomi beneran!

Ketika bank-bank di Asia kolaps, mereka menggunakan istilah-istailah kasar sebagai biang kerok seperti praktek KKN dan mismanajemen.

Tapi tatkala lembaga-lembaga keuangan Barat bobrok, mereka memaki bahasa-bahasa teknis yang halus seperti toxic securities atau subprime seakan-akan semua itu murni kesalahan teknis semata.

Asia perlu belajar dari logika berpikir orang-orang Malaysia yang relatif lebih maju dan mandiri.

Ketika Asia Tenggara terpuruk dalam krismon, Negeri Jiran menolak mentah-mentah semua resep IMF dan memberlakukan cara mereka sendiri.

Uniknya, banyak jurus-jurus silat Melayu itu kini dipakai Barat untuk menyelamatkan diri mereka seperti suku bunga rendah, ekspansi anggaran, injeksi modal tunai untuk bank dan pembelian NPL oleh badan khusus.

Kiriman AC St.Rangkayo Labaih

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: