jump to navigation

Bakrie & Brothers, dari krisis ke krisis October 27, 2008

Posted by ropeh1 in Berita.
Tags:
trackback

Jumat, 24/10/2008 09:17 WIB

oleh : Abraham Runga Mali

Cetak Kirim ke Teman Komentar
Kalau di Amerika Serikat ada Lehman Brothers, negeri ini punya Bakrie & Brothers. Keduanya sama-sama didirikan oleh keluarga dan disebut dengan nama keluarga yang mendirikannya. Yang lebih penting lagi kedua kelompok usaha itu sama-sama mendapat sorotan tajam dalam krisis finansial pada 2008.

Mengenai Bakrie & Brothers, ingatan saya terseret jauh ke satu dekade lalu ketika krisis finansial menghujam negeri ini. Saat itu, 12 Desember 1997, pemilik kelompok usaha Bakrie, Aburizal Bakrie, bersama Menkeu Mar’ie Muhammad memimpin rombongan yang melobi penyelesaian utang perusahaaan di hadapan aktivis Wall Street yang saat ini juga didera krisis yang sama.

Kira-kira sepelemparan batu dari Wall Street-simbol pasar bebas yang sedang mendapat olok-olokan dunia-Aburizal seusai pertemuan dengan para pengelola keuangan global (fund manager) berpetuah tentang pelajaran yang harus disimak oleh perusahaan di Indonesia dari krisis finansial Asia.

Perusahaan, demikian kata pemilik Grup Bakrie itu, harus berhati-hati dalam mengelola keuangan sebagai antisipasi terhadap sistem keuangan global yang rapuh.

Sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia saat itu petuah tersebut memang layak meluncur dari mulutnya. Namun, petuah itu menjadi lebih bermakna karena keluar dari pengalaman bisnis yang digeluti Ical, panggilan Aburizal Bakrie.

Ketika itu, akibat krisis pada 1997/1998, yang ditandai oleh depresiasi rupiah dari level Rp2.000-an hingga sekitar Rp16.000-an, bisnis keluarga Bakrie dicekik utang yang sedemikian besar.

Total utang kelompok usaha itu tercatat sebesar US$1,08 miliar (ekuivalen dengan Rp10 triliun pada saat rupiah dinilai Rp9.000 per US$). Bakrie kemudian melakukan restrukturisasi yang berlangsung hingga empat tahun dan mencapai final pada 2001.

Proses tersebut sangat melelahkan karena harus bernegosiasi dengan kurang lebih 150 kreditor. Melalui pola debt equity swap (menukar utang menjadi saham), para kreditor membentuk sebuah holding sebagai master special purpose vehicle (MSPV) yang menguasai 80% aset di lima anak usahanya, yaitu Bakrie Sumatera Plantations, Bakrie Electronics Company, Bakrie Kasei Corp, Arutmin Indonesia, dan Iridium LLC. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) menguasai sekitar 15% dari total aset-aset itu.

Harga yang dibayarkan oleh keluarga Bakrie pada saat krisis itu sangat mahal. Selain kehilangan Bank Nusa Nasional (BNN), keluarga itu harus melepaskan sejumlah asetnya. Saham keluarga di PT Bakrie & Brothers Tbk menyusut dari 58% menjadi 2,5%. Bisnis keluarga itu pun terjerembab.

Usai menandatangani restukturisasi utang, Ical berujar begini, “Kalau kepada saudara saya gampang menjelaskan. Namun, kepada ibu, itu cukup sulit. Bayangkan, barang yang semula begitu besar tiba-tiba habis. Itu perlu waktu yang pas menjelaskannya. ”

Namun, justru pada saat yang paling sulit itu semangat dan harapan keluarga Bakrie kembali berkobar untuk menguasai lagi aset-aset perusahaan. Sebuah harapan yang sangat realistis karena dalam negosiasi restrukturisasi utang dengan kreditor disepakati kalau akhirnya Bakrie diperkenankan membeli kembali aset-aset tersebut.

Lalu, seperti diketahui, Bakrie tidak hanya bisa membeli kembali, tetapi justru kembali mengangkasa. Perjalanan bisnis keluarga setelah krisis 1997 itu diringkas dalam sebuah tajuk tulisan yang dipersembahkan kepada Nirwan Bakrie dalam perayaan ulang tahunnya ke-55 setahun lalu: Nirwan, Setelah Terjerembab Kembali Mengangkasa (Mozaik Nirwan D. Bakrie, hal. 54).

Saat itu, Bakrie memang benar mengangkasa dengan sayap-sayap komoditas bersama baling-baling utang. Di tengah keasyikan ekspansi dan berputar dalam roda perekonomian nasional, Ical seperti telah melupakan petuahnya sendiri, tentang kehati-hatian dalam berekspansi, tentang kesiapan dalam menghadapi kerapuhan sistem keuangan global.

Pada awalnya keluarga dan manajemen Bakrie berlangkah dengan sangat tepat melalui visi yang sangat jelas. Pada tahun-tahun sesudah krisis, mereka dengan sangat jeli membidik sektor-sektor komoditas, seperti pertambangan batu bara (PT Bumi Resources Tbk), minyak dan gas bumi (PT Energi Mega Perkasa Tbk), dan kelapa sawit (crude palm oil) yang diwakili oleh Bakrie Plantations.

Walaupun fokus ke komoditas, Bakrie tidak meninggalkan sektor infrastruktur dan properti (PT Bakrieland Development Tbk) dan telekomunikasi (PT Bakrie Telecom Tbk).

Di puncak kejayaannya pada awal tahun ini, Bakrie & Brothers menyatukan anak-anak perusahaannya dengan membeli 35% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), 40% saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan 40% saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY). Akuisisi internal itu menghabiskan dana sebanyak Rp48,4 triliun.

Sumber dana untuk aksi korporasi itu berasal dari penerbitan saham baru (rights issue), penerbitan waran, dan pinjaman bank. Perseroan melakukan rights issue terbesar dalam sejarah bursa di negeri ini, yaitu senilai Rp40,1 triliun dan waran senilai Rp2,9 triliun. Selebihnya, akan dibiayai dari pinjaman Barclays Capital senilai Rp8,3 triliun.

Rekor kapitalisasi pasar saham Grup Bakrie
Perusahaan Harga* Rekor kapitalisasi pasar
Bakrie & Brothers Rp560 Rp52,48 triliun
Bumi Resources Rp8.550 Rp165,87 triliun
Energi Mega Persada Rp1.180 Rp16,99 triliun
Bakrie Telecom Rp380 Rp10,82 triliun
Bakrie Sumatera Plantations Rp2.040 Rp7,71 triliun
Bakrieland Development Rp445 Rp8,86 triliun
T o t a l Rp262,73 triliun
Sumber: Bloomberg.
Keterangan: *) Harga tertinggi tiap-tiap saham perusahaan Grup Bakrie.

Gravitasi saham Bumi

Kendati induknya adalah Bakrie & Brothers, Bumi Resources tetap merupakan mutiara termahal dari Grup Bakrie. Seiring dengan booming harga batu bara, Bumi Resources menjadi pusat rotasi dan dinamika bisnis keluarga Bakrie, terutama setelah saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) berhasil dikuasainya.

Pada awal 2002 dan 2005, harga saham Bumi Resources masih Rp55,90 dan Rp900 per saham. Pada saat itu, harga batu bara masih sekitar US$30-US$50 per ton. Kemudian harga saham perusahaan pertambangan itu terus mengangkasa seiring dengan meroketnya harga batu bara.

Pada saat harga batu bara di pasar spot mencapai puncaknya tiga bulan yang lalu, yaitu US$1.200 per ton, harga saham Bumi Resources juga berada di level Rp8.550 (12 Juni 2008).

Dalam dua terakhir ini, saham Bumi menjadi primadona para pemodal bursa efek Indonesia. Hampir semua manajer investasi dan pialang serta investor ritel tidak lepas dari gravitasi saham Bumi.

Pelaku pasar modal Indonesia mendapatkan keuntungan besar dari pergerakan saham-saham keluarga Bakrie. Selain pemodal, sejumlah perusahaan sekuritas lokal, seperti PT Danatama Makmur-yang selalu dipercayai oleh kelompok usaha ini sebagai penjamin emisi dan penasihat keuangan-ikut melambung bersama bisnis keluarga Bakrie. Begitu pun institusi keuangan asing, seperti Credit Suisse dan JP Morgan tak ketinggalan.

Melalui riset dan konsensus para analis mereka, harga saham-saham dalam Grup Bakrie terus dikerek naik. Sebuah pembentukan persepsi yang terkadang lepas dari kinerja fundamentalnya.

Maka terjadilah, kapitalisasi saham Bumi Resources pun sempat meroket dan menyentuh Rp163,9 triliun pada 9 Juni 2008, melampaui nilai pasar PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang 13 tahun tidak pernah bergeser dari peringkat pertama.

Naiknya haga saham kelompok Bakrie, tentu saja, langsung menggelembungkan kekayaan kelompok usaha itu. Tidak mengherankan kalau Forbes pada Desember 2007 menobatkan Ical, pemilik Grup Bakrie, sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai US$5,4 miliar.

Kuatnya gravitasi saham Bumi dan saham Grup Bakrie menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya ‘pasang naik indeks’ di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak 2005, indeks terus bergerak dan mencapai puncaknya pada April 2008,yaitu di level 2.800.

Sebegitu kuatnya gairah saham kelompok Bakrie sampai para investor tidak begitu peduli dengan sejumlah kejadian penting di kelompok usaha itu. Dengan kata lain, sejumlah peristiwa penting yang menimpa perusahaan Grup Bakrie itu tidak cukup kuat mengikis gairah irasional para pelaku pasar (irrational exuberance).

Bakrie terjerembap, Bakrie kembali mengangkasa. Dalam perjalanan menuju puncak bisnis, kelompok usaha itu seakan tidak pernah sepi dari persoalan.

Persoalan kemudian menjadi semakin kompleks karena dikait-kaitkan dengan kepentingan politik, ditafsir dalam bingkai persaingan bisnis dan diembuskan sebagai sentimen spekulasi permainan saham di lantai bursa.

Harap maklum, kejadian itu terkait dengan perusahaan publik milik keluarga Bakrie. Lagi pula di sana hadir seorang Aburizal Bakrie (Ical) yang saat ini menduduki posisi menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu.

Mari kita sebut beberapa kejadian itu. Pertama, munculnya kasus semburan lumpur panas Lapindo. Walaupun oleh pemerintah kasus yang mencuat pada pertengahan 2006 itu ditetapkan sebagai peristiwa alam-bukan kesalahan manusia dan perusahaan-solusi terhadap relokasi permukiman tidak bisa dipungkiri menguras tenaga dan dana triliunan rupiah.

Kedua, perselisihan lahan yang melibatkan PT Porodisa. Pertarungan itu berujung pada penyitaan alat berat dan penghentian produksi di proyek yang ditangani PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Kalimantan Timur.

Ketiga, yang tidak kalah pentingnya adalah urusan utang royalti Bumi Resources yang menjadi alasan pencekalan sejumlah eksekutif KPC. Oleh pemerintah, Bumi diminta harus membayar utang royalti sebesar US$510 juta. Jumlah ini tentu belum termasuk persoalan pajak yang menimbulkan polemik panjang.

Walaupun sempat mengganggu sebagian aktivitas bisnisnya, berbagai persoalan itu dengan mudah dikendalikan. Harga saham Bumi pada khususnya dan saham keluarga Bakrie pada umumnya seperti tidak terpengaruh oleh berbagai persoalan itu.

Itulah sebabnya sejumlah analis hingga tiga atau empat bulan lalu masih mengeluarkan proyeksi bahwa harga saham Bumi-pada saat itu berada di level Rp7.300 per saham-masih bisa mencapai Rp12.000-Rp13. 000. Mereka seperti sebuah koor masih merekomendasikan kepada pemodal untuk terus mengoleksi saham perusahaan pertambangan itu.

Apalagi pemilik dan manajemen Bakrie memang berusaha sekuat tenaga menjaga agar harga saham dari enam emiten di bawah kelompoknya tetap menanjak. Ini adalah sebuah usaha yang sangat beralasan, karena banyak sekali saham dari grup itu yang digadaikan untuk mengeduk utang yang diambil dalam jumlah besar guna menopang ekspansi usaha.

Catatan ekspansi terakhir adalah ketika Grup Bakrie, lewat perusahaan yang dibentuk oleh Bumi Resources, membeli 51,34% saham perusahaan tambang Australia, Herald Resources, dengan harga Aus$2,85per saham pada pertengahan Juli 2008. Dana itu diperoleh dari fasilitas kredit yang diberikan oleh Credit Suisse senilai US$375 juta.

Saat itu, Bumi Resources harus mati-matian bersaing dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang lebih dahulu memiliki saham 19,86% di salah satu lokasi pertambangan timbal dan seng di di proyek Anjing Hitam di Dairi, Sumatra Utara.

Itulah sebabnya sejumlah analis hingga tiga atau empat bulan lalu masih mengeluarkan proyeksi bahwa harga saham Bumi-pada saat itu berada di level Rp7.300 per saham-masih bisa mencapai Rp12.000-Rp13. 000. Mereka seperti sebuah koor masih merekomendasikan kepada pemodal untuk terus mengoleksi saham perusahaan pertambangan itu.

Apalagi pemilik dan manajemen Bakrie memang berusaha sekuat tenaga menjaga agar harga saham dari enam emiten di bawah kelompoknya tetap menanjak. Ini adalah sebuah usaha yang sangat beralasan, karena banyak sekali saham dari grup itu yang digadaikan untuk mengeduk utang yang diambil dalam jumlah besar guna menopang ekspansi usaha.

Catatan ekspansi

Catatan ekspansi terakhir adalah ketika Grup Bakrie, lewat perusahaan yang dibentuk oleh Bumi Resources, membeli 51,34% saham perusahaan tambang Australia, Herald Resources, dengan harga Aus$2,85 per saham pada pertengahan Juli 2008. Dana itu diperoleh dari fasilitas kredit yang diberikan oleh Credit Suisse senilai US$375 juta.

Saat itu, Bumi Resources harus mati-matian bersaing dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang lebih dahulu memiliki saham 19,86% di salah satu lokasi pertambangan timbal dan seng di proyek Anjing Hitam di Dairi, Sumatra Utara.

Kendati memiliki cadangan sebesar 5,6 juta ton, proyek itu belum berproduksi dan izin lahannya masih dipersoalkan.

Gairah membeli Herald tampaknya menjadi sia-sia ketika harga seng terus menurun dari harga tertinggi sebesar US$2.822 per ton pada 3 Maret ke posisi terendah, yaitu US$1.149 pada 16 Oktober. Harga saham Herald pun terus terkoreksi.

Selain berutang membeli Herald, dalam satu dua bulan terakhir menjelang krisis finansial, Grup Bakrie masih rajin berutang. Misalnya, Bakrie & Brothers lewat anak perusahaannya, Sebastal dan Bakrie Fund, berutang US$300 juta, Bakrie Plantations meminjam US$150 juta untuk membeli lahan sawit di Kaltim dan Riau.

Pinjaman dan ekspansi itu terjadi justru di tengah berakhirnya booming komoditas.

Perhatikan bahwa hanya dalam tiga bulan harga minyak mentah dunia anjlok dari US$140 per barel menjadi US$70 per barel. Begitu pula dengan harga komoditas yang lain, termasuk CPO dan batu bara.

Tekanan komoditas dan kejatuhan Wall Street-akibat sistem perekonomian global yang rapuh dan tentu di luar kendali siapa pun-mengikis ekspektasi Bakrie terhadap saham-sahamnya yang diperdagangkan di bursa efek.

Pasar seperti memiliki jalan pikiran dan skenario cerita sendiri. Tidak bisa dihindari, saham-saham di bursa Jakarta pun terkena, termasuk saham milik Grup Bakrie.

Beruntung bursa Jakarta menutup perdagangan dalam dua hari (8 dan 9 Oktober) dan saham-saham milik keluarga Bakrie harus disuspensi dalam waktu seminggu. Sebuah tindakan yang tepat. Kalau tidak, nilai saham Grup Bakrie makin tertekan dan koreksi di bursa efek kian dalam.

Maka mata pelaku pasar dan regulator di Indonesia terus memelototi saham-saham Bakrie. Mereka menunggu langkah yang diambil oleh kelompok usaha itu.

Pemilik dan manajemen Bakrie harus mencari lagi dana dalam jumlah besar untuk menaikkan nilai jaminan (top up) agar terhindar dari kenyataan gagal bayar (default).

Seperti diakui oleh manajemen Bakrie & Brothers, perusahaan itu harus melunasi utang senilai US$1,2 miliar kepada tiga kreditor besar, seperti Oddickson Finance, JP Morgan, dan ICICI Bank Ltd, India, senilai US$1,2 miliar. Utang itu telah dijaminkan dengan aset perusahaan senilai US$6 miliar.

Maka dalam hari-hari ini kita menyaksikan Bakrie melepas asetnya satu demi satu. Yang sudah diumumkan adalah pelepasan saham tahap pertama, yaitu penjualan 15,3% saham Bakrieland kepada Avenue Luxembourgh yang sudah lebih dahulu menguasai 15,45% saham perusahaan itu.

Sementara itu, 5,6% saham Bakrie Plantations dilego kepada Longines Offshore Co Ltd melalui The Royal Bank of Scotland.

Penjualan saham di dua perusahaan itu baru mendatangkan dana Rp554,40 miliar. Itu berarti kelompok usaha tersebut masih membutuhkan banyak dana untuk menutupi utang sebesar US1,2 miliar (sekitar Rp12,39 triliun dengan asumsi kurs Rp9.900 per dolar AS).

Dengan hasil seperti itu, tidak berlebihan kalau banyak yang meragukan apakah Grup Bakrie serius menyelesaikan persoalannya. Di tengah keraguan itu, Direktur Bakrie & Brothers Dileep Srivastata mengatakan setelah pelepasan saham kedua perusahaan di atas, aset berupa saham Bakrie Telecom dan Bumi Resources pun akan dilepas.

Belum diketahui berapa jumlah saham dan kepada siapa aset-aset itu akan dilepas? Kalaupun akan dilepas, siapa yang berminat membeli?

Banyak konsorsium yang sudah menyatakan minatnya, seperti Texas Pacific Group (TPG), aliansi antara PT Timah Tbk dan Yunan Tin ataupun Xsrtata Plc.

Calon yang tidak boleh dilupakan sebagai pembeli adalah Tata Group dari India. Perusahaan itu sebelumnya sudah membeli 30% saham KPC dan Arutmin 30%. Apalagi dalam hari-hari ini Nirwan Bakrie bersama eksekutifnya Nalinkant Rathod berada di India untuk mengadakan negosiasi.

“Saya sedang bersiap-siap ke India. Sabtu kita bisa saling kontak,” ujarnya kemarin.

Itu semua dilakukan di tengah berondongan pertanyaan, mungkinkah keluarga Bakrie akan melepaskan kepemilikannya di Bumi Resources yang adalah berlian dan tempat pijakan utama bagi keluarga?

Pertanyaan lain, seberapa cepat semua persoalan itu akan diselesaikan? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab

Sebagai perbandingan, pada krisis 1997 restrukturisasi utang tidak semudah membalik telapak tangan karena prosesnya berlangsung hampir lima tahun hingga 2001.

Terdapat perbedaan yang mendasar sebenarnya dalam krisis 1997 dengan yang terjadi sekarang. Kalau dahulu, utang Grup Bakrie diserang melalui pelemahan mata uang rupiah, sehingga utang US$1,08 miliar yang tidak dilindung nilai itu (hedging) bertambah dari sekitar Rp2 triliun (rupiah pada level Rp2.000) menjadi sekitar Rp10 triliun ketika rupiah tidak pernah turun-turun dari Rp9.000-an.

Dalam krisis 2008, pembusukan utang Bakrie terjadi lewat penurunan nilai saham. Maka tidak bisa ditepis adanya dugaan lain kalau Grup Bakrie mencoba pasrah dan menunggu akan terjadinya rebound pada harga sahamnya sehingga nilai jaminan pun kembali normal. Padahal, sebaliknya harga saham di bursa terus terkoreksi ke level yang semakin dalam. Kemarin indeks menyentuh level 1.337,204.

Tetap menunggu

Daripada menduga-duga- termasuk dugaan perpecahan dalam kabinet menyangkut upaya penyelamatan terhadap Gurp Bakrie-kita mestinya tetap menunggu langkah yang akan ditempuh kelompok usaha itu.

Daripada menghakimi, bangsa ini mestinya menanti dengan penuh sabar keberhasilan Grup Bakrie keluar dari deraan krisis finansial.

Apa pun kondisi grup itu, bangsa Indonesia tetap membutuhkan keberanian keluarga dan manajemen grup usaha dalam menantang risiko di dunia usaha. Bukankah mereka berbeda dari Lehman Brothers yang utangnya justru terjebak pada kertas-kertas sampah (subprime mortage)?

Penantian yang disertai kepercayaan bahwa pengalaman mereka dalam menghadapi krisis satu dekade lalu menjadi kekuatan dan modal untuk keluar dari krisis kali ini. Apalagi di tengah mereka (Bakrie Brothers) masih ada seorang Nirwan yang dalam berbagai krisis berani tampil mengambil alih risiko dan tanggung jawab.

Semoga saudagar yang dijuluki berhati singa, memiliki tujuh jantung, dan 1.000 akal (Mozaik Nirwan D. Bakrie, hal.154 dan 299) mampu memulihkan kembali sayap-sayap (yang patah), agar bisnis keluarganya bisa kembali mengangkasa.

Andaikan saja bisnis Bakrie kembali terbang tinggi, mudah-mudahan Ical (dan saudara-saudaranya) tidak cepat lupa pada petuahnya sendiri, yaitu “berhati-hati dalam berutang di tengah sistem finansial yang rapuh.”

Hanya dengan memegang erat petuah itu, bisnis keluarga Bakrie yang sudah berusia 66 tahun ini bisa bertahan dan berusia lebih panjang lagi dari Lehman Brothers yang bangkrut pada usia ke-158. (abraham.runga@ bisnis.co. id)

__._,_.___ Kiriman Jhon Leknor

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: