jump to navigation

Gratifikasi October 24, 2008

Posted by ropeh1 in Pencerahan.
Tags:
trackback


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, disebutkan gratifikasi adalah uang hadiah kepada pegawai di luar gaji yang telah ditentukan. Meski berjudul ‘hadiah’, namun hadiah yang ini bukanlah hadiah yang dimaksud oleh Rasulullah SAW. Hadiah yang dianjurkan adalah hadiah yang diberikan atas dasar cinta dan penghargaan serta ikhlas karena Allah semata.

Nabi bersabda, ”Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi). Ya, tumbuhnya rasa saling cinta antarsesama Muslim itulah yang dikehendaki di balik hadiah yang diberikan. Bukan hal lain. Bukan karena mengharap agar dibebaskan dari perkaranya. Atau, mengharap keluarnya izin proyek yang sedang dia garap, atau dinaikkan pangkat dan jabatannya. Atau, harapan-harapan lain yang bersifat duniawi bercampur syubhat dan kezaliman.

Gratifikasi bukanlah hadiah yang dianjurkan, apalagi dihalalkan. Bahkan, gratifikasi haram hukumnya. Islam melarang kita menerima hadiah semacam itu. Dikisahkan dalam hadis shahih, bahwasanya Rasulullah SAW pernah menugaskan seorang sahabatnya untuk menarik harta zakat dan jizyah. Kemudian tatkala ia telah menyelesaikan tugasnya, ia pun datang kepada Nabi dan berkata, ”Wahai Rasulullah, ini untuk engkau, sedangkan yang ini dihadiahkan kepadaku.

” Maka beliau pun bersabda, ”Kenapa kamu tidak duduk saja di rumah orang tuamu, lalu kamu lihat apakah ada orang yang memberikan hadiah kepadamu atau tidak?” (Muttafaq Alaih). Imam An-Nawawi berkata, ”Dalam hadis ini terdapat penjelasan bahwasanya hadiah untuk para pekerja adalah haram hukumnya dan termasuk tindakan korupsi (ghulul). Sebab, ia telah mengkhianati wewenang dan amanatnya.”

Selanjutnya, Imam An-Nawawi juga menjelaskan sebab diharamkannya hadiah semacam ini adalah karena itu berkaitan dengan pekerjaannya. Adapun hadiah yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan seseorang, maka yang seperti ini adalah mustahabbah (disukai).

Al-Hafizh juga mengisahkan dalam Fathul Bari-nya, bahwa Khalifah Umar bin Abdil Aziz pernah mengembalikan buah apel yang diberikan kepadanya, padahal waktu itu beliau sedang menginginkannya. Ketika dikatakan kepada beliau bahwa Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar tidak menolak hadiah, beliau berkata, ”Hadiah pada zaman mereka adalah hadiah. Adapun hadiah pada hari ini adalah suap!” Wallahu a’lamu bish-shawa

 

Kiriman Emil Adiya (Akt 87)

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: