jump to navigation

Air Mengalir Ke Tempat Rendah October 20, 2008

Posted by ropeh1 in Pencerahan.
Tags:
trackback

Bismillahirrahmanir rahim

Air Mengalir Ke Tempat Rendah

Oleh : Fauzi Nugroho

 Pernah beberapa waktu lalu, adik bungsu saya kala itu dinasehati oleh Guru ngajinya. Sang Ustadzah berkata, “Ri…. buat ape sekole tinggi-tinggi, anak perempuan entar larinye juge ke dapur. Mending kayak mpok (baca: kakak perempuan), ngajar ngaji, ngurus suami. Ude deh…., abis itu ngurus anak-anak mpok”, ujarnya dengan logat Betawi kental. “Mpok pernah nggak naik mobil?” tanya adik saya. “Pernah”, jawabnya. “Nah kalau semua orang seperti mpok, cuma ngaji dan ngaji tidak mau peduli ilmu pengetahuan, siapa yang bikin mobil?”.

Lestari, nama belakang adik bungsu saya kala itu baru semester 2 (dua), kuliah di Fakultas Kedokteran UI, dan usianya masih 17 tahun. Kini ia telah selesai kuliah dan buka praktik di daerah ujung barat Pulau Jawa bersama beberapa rekan alumninya. Sementara Mpok Bieeh, sang Ustadzah, majelis pengajiannya sudah ditinggalkan banyak santriwati. Menurut penuturan sang adik, karena di tempat pengajian itu metode pengajarannya monoton, tidak menyesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Kini si mpok, penghidupannya hanya mengandalkan honor sang suami yang seorang Da’i.

Awalnya sang mpok telah merasa nyaman dengan profesinya sebagai Ustadzah, dan dari pekerjaannya itu, si mpok memperoleh Rupiah yang lumayan, membantu suami mencari nafkah untuk menghidupi ke-tujuh anaknya. Namun lama kelamaan, kenyamanan itu terusik, dan perlahan-lahan sinarnya semakin redup. Barangkali itu yang namanya `perangkap zona kenyamanan’. Kebanyakan manusia kadang sudah merasa cukup, dan enggan menghadapi perubahan, seolah segalanya berjalan linear. Dalam beberapa kasus, zona kenyamanan sering menimbulkan situasi yang tidak menguntungkan bahkan berakibat negatif.

    Seperti seorang pemulung yang tinggal di bedeng-bedeng sekitar tempat pembuangan sampah. Manakala pemerintah daerah akan merelokasikan mereka ke tempat penampungan secara gratis, umumnya para pemulung menolak keras pemindahan tersebut. Alasannya, belum tentu di tempat yang baru kehidupan mereka lebih baik. Persis seperti gelandangan dan pengemis (gepeng) yang tinggal di gubuk-gubuk liar di sekitar rel kereta api, mereka juga enggan dipindahkan ataupun ikut serta dalam program transmigrasi. Dalihnya hampir sama, mereka telah nyaman dengan kehidupannya, dan enggan melakukan perubahan.

Mereka takut menghadapi situasi, perubahan dan tantangan baru. Padahal jika mereka mau mengambil sedikit risiko dan keluar dari zona kenyamanan, peluang untuk memperoleh peningkatan kualitas hidup sangat terbuka lebar. Seperti penuturan seorang jamaah haji asal Kalimantan yang saya temui ketika di Masjidil Haram tahun lalu. Pak Dulah, awalnya adalah seorang pemulung di kota Magelang, tetapi setelah beberapa tahun ikut transmigrasi ke daerah Tenggarong, Kutai, Kalimantan Timur. Kini beliau telah menjadi Juragan Jagung, dan bisa menghajikan banyak saudara dan kerabatnya.

Pak Dulah adalah salah contoh orang yang mau keluar dari zona kenyamanan, (merasa puas dengan kondisi saat ini) dalam ukuran kebanyakan orang, dan berani mengambil risiko. Kisah-kisah kebanyakan orang yang berhasil memberi manfaat pada orang lain semasa hidupnya adalah orang-orang yang secara konsisten bersedia untuk terus keluar dari zona kenyamanan mereka untuk memperoleh peluang yang lebih baik. Mereka tidak bosan untuk belajar, menuntut ilmu dan memperbaiki metodenya, disesuaikan dengan realitas dan tantangan zaman.

Ketika seseorang ditanya, `apakah sesuatu yang paling berharga dalam hidup?’. Tidak sedikit yang menjawab, `Kekayaan dan kekuasaan’. Dalam memperingati 100 Tahun (2008) Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) atau sering dipanggil Buya Hamka. Kala itu, beliau mengingatkan umat Islam agar gigih mengejar ilmu. Sang Buya menukil sebuah riwayat, bahwa suatu ketika Sayyidina Ali r.a. didatangi beberapa orang dan menanyakan manakah yang lebih mulia, ilmu atau harta. Sayyidina Ali r.a. menjawab lebih mulia ilmu. “Ilmu menjagamu, sedangkan harta kamulah yang harus menjaganya. Ilmu bila kamu gunakan akan bertambah, sedangkan harta berkurang,” katanya. Lalu, “Ilmu warisan para Nabi, harta warisan Firaun dan Qarun. Ilmu menjadikan kamu bersatu, harta bisa membuat kamu berpecah belah dan seterusnya,” pesan Ali (mui.or.id).

Sang Buya, pria sederhana kelahiran Minangkabau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 telah mengajurkan warga bangsa ini untuk terus menuntut ilmu. Selain itu, bukankah belajar sejak awal Islam memang telah digemakan dan dicontohkan oleh Baginda Rasul, dimana ayat pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk belajar (QS Al `Alaq, 96 : 1), Iqra‘, Bacalah. Bukankah janji-Nya telah dijelaskan dalam Al Qur’an yang berbunyi, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujaadilah, 58:11).

Setelah Nabi wafat, semangat dalam memburu ilmu pengetahuan tidak pernah kendur, seiring dengan pemahaman para sahabat terhadap Al Quran. Seperti Jabir ibn Abdullah r.a. yang menempuh perjalanan sebulan penuh dari kota Madinah ke kota ‘Arisy di Mesir hanya demi mencari satu hadits. Ibnu al-Jauzi menulis lebih dari seribu judul. Imam Ahmad pernah menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk mencari satu hadits, bertani untuk mencari rezeki dan masih membawa-bawa tempat tinta pada usia 70 tahun (Kompas, 2008).

Menurut Kompas, Imam al-Bukhari menulis kitab Shahih-nya selama 16 tahun dan selalu shalat dua rakaat setiap kali menulis satu hadits, serta berdoa meminta petunjuk Allah. Karena itu karyanya menjadi contoh teladan, tujuan para ulama dan pemuncak cita-cita. Imam Nawawi, penulis Kitab Riyadhush Shalihin, al-Majmu’, dan Syarah Shahih Muslim, disebutkan bahwa beliau setiap hari belajar delapan cabang ilmu dari subuh sampai larut malam.

Sehingga tidak mengherankan jika seorang rekan, berusia 59 tahun, yang telah memiliki karir tinggi sebagai Kepala dokter kepresidenan – Jenderal bintang, masih mau menuntut ilmu dan belajar. Akhir pekannya, dikorbankan dan dihabiskan di bangku kuliah Pascasarjana. Menanggalkan atribut kedudukan dan pangkat sebagai seorang pencari ilmu. Karena belajar atau menuntut ilmu memang membutuhkan kerendahan hati. Menurut orang bijak dikatakan bahwa ilmu tidak akan sampai kepada seseorang yang tinggi hati, ia laksana air yang mengalir ke tempat yang lebih rendah, dan disitulah air menggenang.

Ada suatu kalimat bijak dari seorang Buya Hamka, yang menjadi falsafah hidupnya, yaitu Orang yang berakal hanyalah merindukan tiga perkara: Pertama, menyediakan bekal untuk pulang. Kedua, mencari kelezatan untuk jiwanya. Ketiga, menyelidiki arti hidup. Orang yang berakal tahu membedakan manusia, tiada canggung ke manapun dia bergaul. Manusia dibaginya dua. Pertama orang awam, perkataannya disana dijaganya, tiap kalimat dibatasinya. Karena hanya jauhari mengenal manikam. Kedua ialah orang khawas, di sanalah dia merasakan lezatnya ilmu, dan waktu tidak ada yang terbuang…. .

Oleh karenanya, bila hingga hari ini seseorang telah merasa dalam zona kenyamanan atas apa yang telah diperolehnya, dan tidak merasa perlu untuk belajar dan menuntut ilmu, dan enggan melakukan perubahan. Mentari tetap akan bersinar dari ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat, sepanjang Sang Pemilik masih menghendaki. Seperti halnya cahaya chandra yang senantiasa tidak bosan menerangi kelamnya malam. Hanya saja, tidak sedikit orang baru terbangun dari mimpi indahnya tatkala tersandung ataupun  terperosok. Ia tergugah setelah penderitaan dan perbenturan yang merindukan cinta, sehingga memberinya daya sensitivitas dan hasrat pengembaraan intelektualitas.

Mudah-mudahan air itu terus mengalir, seiring dengan munculnya dahaga yang terus mengembara mencari oase kelezatan jiwa. Karena disitulah bersemayam sebongkah lubang yang siap menampung derasnya air kehidupan. Semoga kita termasuk orang-orang yang melapangkan dada bagi masuknya pancaran ilmu, agar supaya semakin mengenal diri dan arti hidup ini. Amin (fn). ._,__

Forum Pesan Hari Ini (PHI)

 

 

Kiriman Wahyu (Akt 87)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: