jump to navigation

5 Menit bermanfaat….. October 20, 2008

Posted by ropeh1 in Pencerahan.
Tags:
trackback

Kesederhanaan membuat orang dermawan,

Kejujuran membuat orang berani,

Kerendahan hati membuat orang bijaksana.

 

Bismillahirrahmanir rahim

How Low Can You Go?

Oleh : Farabi Al Mishri

 

 Seperti ditulis harian Koran Tempo, Selasa 12 Agutus, sosok pejabat yang satu ini gemar memakan pecel kesukaannya. Di tengah kesibukannya sebagai salah satu petinggi di sebuah lembaga strategis di republik ini, beliau masih menyempatkan makan siang di sebuah kantin. Di kantin kesukaannya itulah pribadi yang terkenal santun dan rendah hati, menghabiskan istirahat siangnya dengan menu pecel. Murah, enak di lidah dan jauh dari kesan mewah serta bisa membantu menghidupi usaha kecil, di tengah maraknya bisnis kuliner yang mengedepankan merek impor. Di usianya yang telah mencapai 48 tahun, dua puluh tahun sudah tokoh ini mengkonsumsi pecel sebagai menu makan siangnya.

Lain lagi dengan pribadi yang usianya lebih tua dari tokoh di atas, pejabat ini sedianya dalam 2 – 3 tahun mendatang akan memasuki masa pensiun. Namun sekembalinya dari tugas di luar negeri, justru beliau mendapat kepercayaan sebagai salah satu petinggi di jajaran lembaga strategis itu. Kerendahan hati dan sikap tidak aji mumpung beliau perlihatkan manakala akan menggelar perhelatan menikahkan putranya yang kedua. Pihak manajemen gedung tempat acara resepsi pernikahan melalui seniornya, menawarkan untuk memberikan gedung dan ruangan yang lebih besar daya tampungnya, tetapi beliau menolak dan memilih gedung yang lebih kecil.

Pernah pada suatu waktu saya berkesempatan bersama beliau menjenguk suami bawahan di kantornya di sebuah rumah sakit. Sedianya akan menggunakan kendaraan saya, tetapi beliau membatalkan dan lebih memilih kendaraan umum. Ketika saya mencoba menawarkan untuk memanggilkan taksi dan meminta beliau menunggu di lobby, itupun ditolaknya dan memilih jalan kaki bersama ke jalan utama yang berjarak lebih dari 300 meter dari gedung kantor kami.

Demikian pula ketika saya pindah ke kantor di luar kota, saya pun menemukan sosok pejabat yang bersahaja, baik dalam pakaian maupun makanan. Setelah shalat Jum’at, biasanya kepala kantor ini makan siang di kantin yang jaraknya tidak jauh dari tempat kami shalat. Hingga pernah ada seorang petugas cleaning service bertanya kepada saya, “Pak…, apakah itu kepala kantor yang baru?”, “Iya”, jawab saya pendek. Lalu si petugas itu berkata lagi, “Baru kali ini sejak saya bekerja di tempat ini, ada seorang kepala kantor yang berkenan makan siang, dan membaur bersama pegawainya”.

Dalam sebuah perjalanan saya melihat sendiri, bagaimana sikap beliau yang tidak alergi terhadap warung di pinggir jalan. Pernah dalam tugas luar kota, beliau meminta mampir ke sebuah warung kecil untuk sesaat beristirahat dan minum kopi di warung itu. Biasanya protokoler selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi atasannya, dan kebanyakan orang mengukur bahwa kepuasaan atasan akan terpenuhi bila dijamu di tempat yang mewah dengan menu makanan yang beraneka ragam. Tetapi tidak dengan sosok yang satu ini. Jajanan pasar dan warung/kedai menengah ke bawah kerap menjadi ajang kunjungan kulinernya.

Hidup sederhana, barangkali itulah kalimat yang kadang kita mudah mengatakannya namun sulit melaksanakan. Apalagi bila ia adalah golongan empunya, mempunyai kedudukan sosial yang tinggi dan kerkocek tebal. Tanpa disadari perilaku pemimpin yang mengedepankan gaya hidup yang biasa-biasa saja, dan merakyat bisa menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya tidak terkecuali para bawahan, orang-orang yang dipimpinnya.

Ada pameo mengatakan bahwa ikan akan busuk dari kepalanya lalu menjalar ke ekor. Teori budaya paternalistik mengatakan perilaku pimpinan akan membawa pengaruh terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Bila pimpinan doyan dugem, bukan tidak mustahil bawahan akan ikut-ikutan berdugem ria. Bila pimpinan gemar awewe, anak buah pun akan terjangkit epidemi yang sama. Pemimpin adalah teladan dan panutan, perilaku dan tidak tanduknya akan menjadi penilaian bawahan. Guru buang air kecil berdiri, anak murid buang air kecil berlari, itu pepatah lama. Apa yang diperbuat oleh pimpinan, sudah barang tentu akan diikuti oleh pengikutnya.

Bila ia orang kaya, memiliki segala keperluan dunia lalu bergaya hidup sebagai orang kaya, itu kebanyakan manusia. Bila ia adalah orang kecil yang berkocek pas-pasan namun memaksakan bergaya hidup seperti orang kaya, itu yang namanya celaka. Tetapi bila ia orang yang empunya, namun bergaya dan berperilaku sederhana dan bersahaja, itulah orang-orang yang mulia. Kemulian mereka tidak dikarenakan pakaian yang dikenakan, kendaraan yang ditunggangi, rumah yang ditinggali, ataupun atribut keduniawian lainnya. Baginya kemuliaan ketika segala yang dititipi menjadi jalan tujuannya kepada Allah SWT, sehingga hatinya akan dipenuhi kekayaan dan kelapangan jiwa.

Imam Muhammad bin Alwi Al Maliki mengatakan bahwa hidup sederhana tidak berarti Islam menganjurkan kepada pemeluknya agar tidak bekerja dan berusaha, serta melarang mereka memperoleh kekayaan dunia. Bahkan berusaha, bekerja, atau mencari harta kekayaan termasuk amal perbuatan ibadah selama dimaksud untuk memenuhi kebutuhan dirinya, keluarga, dan bisa memberi manfaat pula untuk sekalian kaum.

Rasulullah SAW pernah bersabda; “Barangsiapa yang segala macam urusan akhirat menjadi tujuan pokok baginya, maka Allah menanamkan kekayaan di dalam hatinya, semua urusannya tercapai dan harta kekayaan datang dengan cepat. Dan barangsiapa urusan kekayaan duniawi menjadi tujuan pokok baginya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan selalu berada di depannya, semua urusan cerai-berai dan tiada harta kekayaan yang tidak datang kecuali yang telah ditentukan” (HR At Tirmidzi dari buku Keutamaan Umat Muhammad).

Pernah ada sahabat yang bercerita mengenai kehidupan tetangga rumahnya di daerah Bekasi. Sang sahabat sering melihat tetangga di lingkungannya itu kemana-mana berjalan kaki, mengenakan pakain koko, dan kerap membawa tas kresek plastik. Sangat sederhana. Namun setelah beliau meninggal, tersebar kabar mengejutkan bahwa sang tetangga itu mewariskan kekayaan tidak kurang dari Rp50 milyar!. Ini sebuah kisah nyata.

Nyatanya, tidak sedikit orang-orang kaya yang hidup begitu sederhana di dekat kita. Hanya saja, kadang kita begitu terpukau oleh rumah mewah, penampilan mentereng dan mobil gres keluaran tahun anyar sebagai penanda status kekayaan. Jika kita amati, ke kiri dan kanan, ternyata banyak juga orang yang sudah masuk kategori kaya tapi tampil jauh dari simbol-simbol kekayaan itu. Mereka hidup sebagaimana orang kebanyakan. Ke sana kemari naik angkot, membelanjakan uangnya seperlunya dan penabung yang tekun.

 Menurut sebuah blog, seorang anak muda di Bogor tahun 2005 lalu dapat untung dari bisnis sepatunya sampai Rp1 milyar. Seorang pengusaha garmen di Tanah Abang mengeluarkan zakat 250 juta, padahal usianya masih kepala tiga. Seorang tukang bakso di Lampung berpenghasilan 65 juta sehari. Di dekat tempat tinggal si penulis blog, ada seorang Haji sederhana. Sehari-hari hanya pakai sarungan dan kaos oblong. Bisnisnya besi tua. Sekarang dia sedang membeli besi tua di Jambi. Biaya angkutnya saja sampai Rp1 milyar. Lain lagi dengan Pak Haji Fulan, kemana-mana pakai sandal. Bepergian lebih sering naik taksi. Orang tidak tahu kalau tokonya berjumlah ratusan, dan banyak lagi contohnya.

Namun ada kesamaan di antara mereka. Mereka semua sama-sama bergaya hidup sederhana. Jauh dari kesan tajir. Tidak bermobil Alphard, tidak berpakaian Giorgio Armani, tidak berjam tangan Rolex, tidak tercium aroma Bvlgari, tidak nongkrong di Starbucks, tidak juga liburan ke Eropa. Paling jauh mereka pergi haji atau liburan pulang ke kampung. Mereka lebih suka berbaur dengan orang banyak, dan rakyat kecil kebanyakan.

 Harta bendanya tidak membuat mereka silau, dan lantas menjauhkan diri daripada-Nya, tetapi justru mengharapkan keridhoan Allah. Dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman, “dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr, 59:8). Dalam ayat lain disebutkan, “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al Baqarah, 2:272).

Dalam buku “The Millionaire Next Door”, karya Thomas J. Stanley Ph.D., dan William D. Danko, Ph.D (http://www.nytimes. com/books/ first/s/stanley- millionaire. html) menceritakan orang-orang kaya di Amerika yang hidup sederhana. Mereka tidak seperti orang kaya, mereka tidak berbusana seperti orang kaya, dan seterusnya. Ternyata bersahaja tidak malah membuat menderita, betapa saat ini orang-orang yang bergaya orang kaya malah penuh sahwa sangka karena KPK ada dimana-mana. Mudah-mudahan beberapa contoh diatas menginspirasikan kita, bahwa memang dunia bukan tujuan kita, ia hanyalah sarana mencapai kemuliaan jiwa.

Semoga kita bisa mengambil manfaat, walaupun penulis sendiri masih belajar mengimplementasikan nya. Namun teringat orang bijak berkata, apa yang kita pikirkan adalah cermin dari apa akan kita raih. Jika kita berpikir bisa, kita bisa. Bila kita berpikir gagal, maka kegagalanlah yang akan kita tuai. Oleh karenanya seberapa bisa kita hidup sederhana, how low can you go?,  tergantung seberapa  besar kita mampu memahami dan mengamalkan ajaran-Nya. Insya Allah  kita termasuk orang-orang di dalamnya. Amin (fam)

 

Kiriman Wahyu (Akt 87 ):

 

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: