jump to navigation

Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum-pun Dilanggar October 16, 2008

Posted by ropeh1 in Topik Hangat.
Tags:
trackback

Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum-pun Dilanggar
untuk “Membela Pasar”

Tanggal 9 Oktober 2008 pemerintah mengeluarkan kebijakan yang terdiri dari 5 (lima) langkah untuk mengatasi krisis ekonomi yang sudah mengenai Indonesia. Salah satu dari 5 kebijakan pemerintah untuk mengatasi krisis finansial saat ini adalah dihapusnya aturan marked to market untuk surat utang yang dimiliki perbankan. Aturan baru ini sudah disepakati dengan IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) tidak perlu ada aturan marked to market terhadap surat utang yang dimiliki oleh perbankan. Financial Accounting Standard Board (APB) Statement 157 tentang “Fair Value Measurements” mengatur penyajian assets (cash potential) seperti commercial papers/surat utang, dan sejenisnya dalam laporan keuangan periodik dan tahunan dengan menggunakan nilai “fair” yaitu nilai penjualan di pasar, walaupun belum direalisasikan. Potential gains or losses dari surat utang tersebut dapat tercermin dalam laporan laba-rugi perusahaan, agar laporan keuangan lebih dapat mencerminkan kondisi sebenarnya (wajar/tidak menyesatkan) .
Walaupun menimbulkan pro dan kontra mengenai FASB Statement tersebut, namun jika hal ini diterapkan dalam keadaan harga yang sedang turun (potential losses diakui) dan tidak diterapkan dalam kondisi harga asset tersebut sedang naik (potential gains tidak diakui), berdasarkan conservatism, maka laporan keuangan lebih menggambarkan kondisi keuangan perusahaan yang lebih wajar.
Sebaliknya yang akan dilakukan di Indonesia adalah karena sebagian besar bank akan menderita kerugian dari transaksi commercial papers ini, maka potential losses ini tidak dilaporkan dalam laporan keuangannya, atau dicatat berdasarkan nilai perolehannya. Jika potential losses tersebut diakui (menerapkan FASB statement 157) maka laba bank-bank di Indonesia akan turun atau bahkan menunjukkan kerugian (padahal ini kenyataannya) . Kebijakan tersebut adalah mengelabui para pengguna eksternal dari laporan keuangan, sehingga kinerja bank lebih baik dari yang seharusnya.
Kenapa pemerintah begitu kehabisan akal untuk menangani krisis ekonomi ini, window dressing-pun dihalalkan. Apakah profesi akuntan (IAI) harus tunduk pada pemerintah? Jika seorang financial auditor nantinya mengaudit laporan keuangan suatu bank yang menghilangkan penerapan marked to market (yang seharusnya dilakukan), maka dia akan memberikan opini unqualified opinion (padahal seharusnya qualified opinion). Profesi akuntan publik sudah dilecehkan, dan masyarakat dan seluruh pengguna laporan keuangan
dapat tersesat jika mengambil keputusan berdasarkan laporan auditor tersebut.

akarta, October 9, 2008

Kiriman dari Fakhri Kardina

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: