jump to navigation

Catatan dari Jhoni Leknor October 16, 2008

Posted by ropeh1 in Topik Hangat.
Tags:
trackback

Waalaikum Salam Fayadri, Da Rove,
Ambo kurang satuju kalau dikatokan auditor pangicuah, karano sabanayo bukan auditor/KAP yang pangicuah… (banyak auditor berhati nurani mulia.. caliaklah gebrakan KPK, rekan rekan yang memelihara keluhuran budi di BPK / BPKP yang hidupnya -sekali lagi maaf- senin kamis, atau KAP kecil-kecil yang kalau turun semua voucher diperiksa – really very very contrary to riskbased audit) tapi lingkungan (controling evironment) dan instrumen kerja (standard, framework) yang nyo pakailah yang mambuek -maaf- susah bagi auditor untuak mempertahankan independensi, accurasi yang sebenarnya itulah yang diharapkan public/ orang awam (ultimate user – rakyat banyak yang selalu dirugikan). Frameworknya saja bertahan pada prinsip fairness…. yang menyebabkan independensi juga menjadi dalam tanda kutip. Walaupun sekarang Internationall Auditing Standard /ISA (emerging from EU) disebagian reportnya menggunaka n kata truth (tapi masih boleh optional dengan pilihan kata
fairness), namun accounting standard (disini SAK) yang digunakan sudah dimonopoli kepentingan gerombolan penjudi dan penipu besar (baca big konglomerasi/ group holding company) dari Amerika (kita hanya dimanfaatkan saja untuk memahami, mengadopt dengan baik aturan mereka). contohnya PSAK 55 itu tadi… menawarkan instrument gak jelas, aturan main membingungkan – kecuali bagi para pejudi/atau berjiwa dan senang judi, dan kita dipaksa menghapal, mempelajari dan ikut bermain. Jika semua aturan main sesuai standar… apakah auditor salah… tidak saudara-saudara. .. laporan keuangan Fair… comply dengan aturan main…. yang salah adalah yang memilih mengapa aturan itu yang digunakan… .
 
Diluar frame work, tak bisa dipungkiri memang banyak juga akuntan/KAP yang bermain mata dengan regulatory body, pengusaha, konsultan, pengawas bursa(Bapepam) , dan institusi lainnya, sehingga lengkap sudah kebohongan publik yang ditimbulkannya. .. Apa buktinya main mata ini ketika krisis ekonomi 1998 menghantam indonesia, maka semua party diatas bermain mata…sehingga 1.Regulator menjamin pinjaman bank – karena dipaksa 2.IMF-Amerika, kemudian aset yang disetor ke 3.BPPN Rp 600Trilyun hasil Duediligence 4Akuntan yang diproyeksikan  5appraisal,  saat direalisasikan hanya 150 Trilyun dan banyak yang secar 6Legal juga bermasalah. Akhirnya 150 Trilyun tersebut dijual murah lagi ke 7Pengusaha/pemilik hutang awal dan mereka dibebaskan dari hutang-hutang mereka release and discharge..
 
Dari contoh diatas.. independensi auditor saat dapat winfall project dari BPPN saat itu sangat diragukan, demikian juga dengan konsultan lain (spt layer,appraisal dll) pada saat itu. Yang senang  Amerika lagi (baca IMF…interest ngalir teruus.. ekonomi gak pulih-pulih)
 
Jadi terlepas dari hati nurani, maka menurut saya instrumen dan lingkungan juga ikut menyebabkan independensi auditor (bahsa lain pangicuah tadi) menjadi diragukan.
 
Sekali lagi maaf kalau salah, dan kurang berkenan. But this is fact MAN…why we are poor in such very rich -gemaripah loh jinawi -country..
 
Regards,
Leknor

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: