“Saudara-saudara kita sesama muslim masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan bergaul hanya pada lingkungannya sendiri. Malah yang lebih memprihatikan, dengan sesama muslim kalau ngundang pembicara dia tanya dulu, “Orang itu madzhabnya apa ?.” Dia tidak akan menerima orang yang tidak satu madzhab, satu aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju sudah menjadi pemandangan yang biasa orang-orang Yahudi mengundang pembicara Islam, Hindu atau Kristiani, atau sebaliknya.
Mereka sudah mantap dengan iman mereka sehingga mereka tidak khawatir dengan pembicara yang datang dari luar komunitas mereka. Mereka sangat yakin, bahwa dengan cara demikian (menghadirkan pembicara “orang luar”), mereka dapat memperkaya wacana dan kehangatan batin. Kita, atau persisnya sebagian umat Islam, lupa bahwa salah satu cara mensyukuri perbedaan ditunjukkan bukan pada lisan akan tetapi dengan mendengarkan pendapat orang lain yang beda keyakinan agamanya.”
Dan ucapannya yang lain:
“Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan “ya !” terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah; red) kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan lebel-lebel formal ketuhanan. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien, menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran buruk, saya rasa ini semua pilihan orang-orang beriman. Itu alasan pertama.
Alasan kedua, Islam itu agama rahmat untuk semesta alam loch. Berislam itu mbok yang keren abis gitu loch ! Maksudnya jadi orang Islam mbok yang betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Agama kita puncak kesempurnaan agama loch. Dan karenanya kita harus tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu mengunggul-unggulka n agama kita yang memang sudah unggul dihadapan saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita. Bagaimana Islam bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan pemeluk) agama lain.”
Jadi jangan sok udah berislam “secara baik” tapi ga pernah menghargai perbedaan. Benar kata pak mario Bagaimana Islam bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan pemeluk) agama lain. Ambil contoh kecil kalo kita merendahkan teman kita sendiri tentu saja teman kita otomatis menjauhi kita..
Terakhir beliau berkata :
“Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman yang mengherankan sekaligus membuat saya prihatin. Dalam satu seminar di acara coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta penganut agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu memberi komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu dengan lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa saya seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya) prihatin adalah ucapannya, “Loch, koq ada ya orang Islam yang baik macam Pak Mario !?” Saya pun terkekeh mendengarnya. Nah ini kritik dan sekaligus menjadi tugas kita semua untuk memperbaiki citra Islam.”
Menurut gue orang-orang seperti pak mario adalah seorang sufi yang patut kita contoh yang ga perlu menjelaskan keislamannya ke semua orang tapi dengan perilakunya sudah menujukkan bahwa beliau adalah muslim sejati…
(sumber kutipan pak mario : www.sufinews. com)
Kiriman AA Harris
Subhanallah….
saya baru tau bapak mario teguh orang muslim. . . .
the best benchmark people in indonesia….
Apa sih maksudnya?
Mereka sudah mantap dengan iman mereka sehingga mereka tidak khawatir dengan pembicara yang datang dari luar komunitas mereka. Mereka sangat yakin, bahwa dengan cara demikian (menghadirkan pembicara “orang luar”), mereka dapat memperkaya wacana dan kehangatan batin.
Kalau sudah mantap dengan iman, mengapa masih memerlukan kehangatan batin? Manusia kalau sudah mantap imannya (mampu ber-zuhud) bahagianya hanya digantungkan hanya kepada Allah, bukan pada manusia, benda dan orang luar?
Jangan-jangan kamu juga nggak negrti, sekedar ikut-ikutan saja.
katanya kita nggak boleh berburuk sangka tapi koq artikel diatas kog berprasangka buruk, karena di lingkungan kami yang muslim tidak begini kog, begini bunyinya:
“Saudara-saudara kita sesama muslim masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan bergaul hanya pada lingkungannya sendiri. Malah yang lebih memprihatikan, dengan sesama muslim kalau ngundang pembicara dia tanya dulu, “Orang itu madzhabnya apa ?.” Dia tidak akan menerima orang yang tidak satu madzhab, satu aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju,… dst
katanya kita nggak boleh berburuk sangka tapi koq artikel diatas kog berprasangka buruk, karena di lingkungan kami tidak begini kog, begini bunyinya:
“Saudara-saudara kita sesama muslim masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan bergaul hanya pada lingkungannya sendiri. Malah yang lebih memprihatikan, dengan sesama muslim kalau ngundang pembicara dia tanya dulu, “Orang itu madzhabnya apa ?.” Dia tidak akan menerima orang yang tidak satu madzhab, satu aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju,… dst
tulisan ini kiriman salah satu teman, jadi semua orang atau pembaca silahkan berkomentar sesuai dengan cara pandang masing-masing, dan kalau ditanya ke kami, kami akan menjawab: kami akan jalani apa yang kami telah ketahui dan yakini, dan apakah kami setuju ?, tidak perlu secara ngamblang menjawabnya, karena iman bukan untuk dinilai oleh manusia, dan iman adalah urusan manusia dengan Sang Khalik, dan sebenarnya dan sejujurnya kami juga ingin untuk berkomentar tapi kami pandang hal itu malah akan berdampak tidak baik, makanya kalau dibilang ikut-ikutan saja sepertinya kurang tepat, …
apa pentingnya sih dia muslim atau nonmuslim? kenapa filter pertama kita untuk menilai seseorang itu harus agama? seolah2 kalo orang itu islam dia pasti bener dan kalau dia nonmuslim pasti gak bener?
yaaaa g gthu
q-ta2 pgn th agama P.Mario
bwt skdar tahu aja…
Iye, w baru tahu pak mario ntu islam
karena klo pak mario teguh nonmuslim. Iikh w ga bkal ntn acaranya.